Emosi Karena Lampu Philips

Beberapa saat yang lalu, saya mengunjungi sebuah swalayan khusus bangunan yang cukup besar di daerah rumah saya. Tujuannya sih cuman satu, beli lampu.

Sampai lokasi, karena tidak ada keperluan selain lampu, saya langsung menuju ke deretan rak-rak yang memajang berbagai jenis lampu. Berbagai merk, ukuran, bentuk dan jenisnya ada disana.

Karena di benak saya cuman ada satu merk yang saya percaya, setidaknya sampai hari ini, saya langsung menuju ke tempat lampu yang saya maksud itu berada.

Lagi asyik-asyiknya memilih, datanglah seorang mbak-mbak SPG.

“Nyari lampu, pak?”

“Iya”, meskipun dalam hati saya agak jengkel. Jelas-jelas saya berada di area lampu dan sedang sibuk memilih. Apa iya saya lagi nyari sandal? *sigh

“Di rumah pakai Philips, pak?”

“Iya, udah dari kapan tau”

“Mau coba S*******, pak?”, lanjut mbak itu

“Nggak mbak”

“Ini bagus lho, pak. Garansi 1 tahun. Kalau mati bisa diganti. Philips kan ga ada garansinya”, jelasnya gak mau nyerah

“Saya pernah coba itu lampu, mbak. Tapi satu tahun lewat berapa hari, lampu itu mati. Garansinya udah lewat dong”, kata saya,”Sementara lampu philips baru mati setelah 3 tahun lebih”

“Ya mungkin pas itu bapak dapat lampu yang cacat produksi. Jadi baru setahun sudah mati. Namanya juga produksi massal”, cerocosnya lagi

“Hah? Berarti quality control-nya gak bagus dong? Dengan harga mahal, harusnya cacat produksi bisa diminimalisir. Sementara kalau pake philips, pengalaman saya paling cepat itu umurnya 2 tahun baru mati”, balas saya tak mau kalah, plus emosi saya sudah mulai naik

“Lampu S****** nya mungkin nyala terus, pak. Gak pernah dimatiin”

Weladalah … Ngotot juga nih si mbak.

“Begini ya, mbak. Justru lampu itu saya pasang di dapur sebagai lampu tambahan saja. Sementara lampu utama tetap pakai philips. Nah, secara waktu penggunaan … Umurnya jauh berkurang dari 1 tahun karena hanya nyala sesekali kalau diperlukan jika saya menggunakan dapur di malam hari”, errgghhh .. Makin emosi. Yang punya rumah itu saya, kenapa dia sok tahu yak.

“Dicoba lagi aja, pak. Mudah-mudahan tidak mengalami yang sama”, lanjutnya

“Begini aja deh, mbak. Philips ini dijual apa enggak? Kalau dijual, saya beli. Tapi kalau tidak, saya cari di toko lain”, makin ketuslah saya

“Dijual sih, pak”, jawabnya

“Ya sudah, saya beli lampu philips ini. Selesai toh?”, kata saya seraya ngeloyor pergi sambil menenteng lampu pilihan saya ke kasir.

*mlengoooossssss

24 Comments

Add a Comment

Your email address will not be published.