Dan Wanita Itu … (4)

***

Pameran telah berakhir beberapa hari yang lalu, dan kini aku harus kembali tenggelam dalam aktifitas dan rutinitas seperti biasanya.?Suasana kantor hari ini terasa sepi. Mungkin masing- masing orang sibuk dengan urusannya hari itu. Yang tertinggal di ruangan hanya beberapa orang termasuk aku.

Dalam kesunyian seperti itu, tiba-tiba pikiranku kembali teringat akan wanita itu. Geblek !!!! Tanpa permisi dan ketuk pintu, bayangan wanita itu nyelonong masuk dan menyita sebagian ruangan di otakku. Kurang ajar, kan?

Aku coba untuk menepisnya dengan membaca-baca berita di internet. Tapi percuma, bayangan wanita itu lebih kuat menarik perhatianku. Seketika aku hentikan kegiatanku, dan kubiarkan pikiranku melanglang buana, menembus segala batas untuk mempersilakan bayangan wanita itu menari-nari di otakku.

Wanita itu telah menyita perhatianku. Entah kenapa, bayangannya begitu sulit untuk dilupakan. Apakah kekaguman saya sebenarnya adalah sebuah cinta? Jika memang begitu, berarti suatu hal yang selama ini hanya terjadi di sinetron atau film India telah terjadi dalam kehidupan nyata. Dan itu adalah kehidupanku.

Apakah aku jatuh cinta pada pandangan pertama? Ah .. entahlah, terlalu dini untuk membahasnya.

***

Kesunyian di ruang kerjaku, ditambah lagi bayangan akan wanita itu ternyata telah mengundang rasa kantuk ke pelupuk mataku. Segelas kopi panas mungkin akan membantuku sedikit mengatasinya. Aku segera beranjak dari tempat dudukku dan menuju ke pantry dimana tersedia coffee maker disana.

Baru beberapa meter aku melangkah, aku merasa kedua kakiku seakan terpaku dengan bumi. Tepat di depanku, terlihat seorang wanita berjilbab sedang menunggu didepan lift. ”Sepertinya dia … Apakah benar dia?”, kataku dalam hati.

Seperti tersadar bahwa sepasang mata sedang mengawasinya, sosok wanita itu tiba-tiba menoleh kearahku.?Ya Tuhan, mimpi apa aku semalam? Baru saja bayangannya yang hadir mengusik alam pikiranku, kini didepanku telah berdiri wujud aslinya. Dan dia adalah wanita itu, Indri.

”Hei, mas. Apa kabar?”, sapanya melancarkan jalan darahku.
”Hei juga. Baik-baik aja. Kamu ngapain disini?”, tanyaku.?
”Tadi ada rapat”, jawabnya
”Ooo … kayak orang sibuk aja”, kataku seenaknya
”Iya dong. Indri gitu loh. Eh duluan ya mas, lain kali disambung ya”, katanya seraya ngeloyor masuk ke dalam lift yang pintunya sudah cukup lama terbuka.
Aku membalas lambaian tangannya yang masih sempat dia lakukan ketika pintu lift akan menutup kembali. Kulanjutkan langkahku menuju pantry, karena rasa kantuk yang sepertinya sudah tidak mau kompromi lagi denganku.

Aduh .. sial !!! Kenapa aku tidak meminta nomor telponnya? Bukankah itu tadi adalah sebuah kesempatan, yang mungkin tidak akan lagi kudapatkan? Sementara aku harus puas untuk menikmati penyesalanku. Sebuah penyesalan atas kesempatan yang telah aku sia-siakan. Duhh …

***

Kembali aku terduduk di kursiku. Aku coba mengalihkan pikiranku dengan melakukan browsing di internet. Beberapa situs berita telah aku jelajahi, tapi tak satupun tajuk berita yang menarik minatku untuk membacanya.

Sekali lagi pikiranku terbang mengembara menemui bayangan wanita itu yang semakin lama semakin manja menggelayut manja di benakku. Gawat !!! Ini tidak bisa dibiarkan berlarut-larut. Aku harus segera mengenal lebih dekat sosok wanita itu. Harus!!!

Tapi, apakah sebenarnya yang terjadi di balik penasaranku pada wanita itu? Hingga sampai sebegitu kuatnya rasa ingin tahuku.?Ah bodo! Itu urusan entar. Yang jelas, saat ini aku harus segera bertindak untuk mencari tahu tentang siapa sebenarnya wanita yang bernama Indri itu. Kutinggalkan meja kerja dan segelas kopi panas yang baru berapa teguk saja aku minum.

”Bro, loe kenal Indri?”, tanyaku pada seorang kawan yang pertama kali aku jumpai sesaat setelah meninggalkan ruang kerjaku.
”Kenal, kenapa?”, dia balik bertanya
”Hmmm … loe tau nomor handphone-nya nggak?”
”Nggak tau. Emang kenapa? Naksir ya?”, tanya dia lagi
”Gue juga gak tau kenapa, apa gue naksir, penasaran atau perasaan lain. Yang jelas, gue pengen tau nomor telponnya”, jawabku blak-blakan.
”Wah … gue gak tau tuh”, timpalnya
”Gini deh. Gue gak mau tau gimana caranya, tapi yang jelas gue butuh bantuan loe untuk mencari tau nomornya”, kataku setengah memaksa
”Gila … loe minta tolong apa maksa nih? Atau ….. loe bener-bener kasmaran ya sama dia?”, jawabnya setengah menggoda.
”Gue minta tolong, tapi maksa”, jawabku sambil nyengir,”Pleaseeeeeee”.
”Ok man … gue akan bantu. Berapa nomormu?”

Aku segera memberikan nomor handphone-ku supaya dia segera menghubungiku begitu berhasil mendapatkan nomor telpon Indri.?
”Gue usahain. Beri gue waktu sehari”, janjinya
?”Sehari? Gila, lama banget”, kataku,”2 jam. Sanggup gak?”
?”Gak tau deh. Tapi pasti gue usahain”, balasnya.?
”Gitu dong. Thanks ya, Bro”, ujarku seraya menyalami tangannya.

Aku segera menuju ke kantor pusat yang jaraknya tidak begitu jauh. Aku memang bertugas di kantor cabang yang letaknya tepat dibelakang kantor pusat. Aku bermaksud untuk menemui beberapa orang yang sekiranya bisa membantuku mendapatkan informasi tentang wanita itu.?Tapi ternyata aku masih mempunyai rasa malu untuk bertanya pada setiap orang. Akhirnya kuputuskan untuk menunggu saja kabar dari temanku. Aku yakin, dia pasti berhasil mendapatkannya.

Jam tanganku menunjukkan pukul 11.25 siang. Aku pikir mungkin sebaiknya aku makan siang saja sambil menunggu informasi yang kuharapkan meskipun sebenarnya agak malas juga karena siang itu aku harus makan sendirian.

Aku melangkah ke deretan warung yang terletak tak jauh di sebelah kantorku. Aku menuju warung soto yang berada paling ujung karena kulihat masih belum begitu ramai pembeli dan segera memesan semangkuk soto ayam serta satu botol teh dingin kegemaranku.

Belum selesai aku mengunyah sesuap nasi yang berada di mulutku, handphone-ku pun berbunyi.?
”Halo”, sapaku?
”Ru, gue udah dapat”, sahut suara di seberang.?
”Oooh elo bro. Cepet banget. Berapa nomornya?”, jawabku tak sabaran
?”Bentar dong, gak sabaran amat sih loe”, ledeknya,”Catat ya!”.

?Yah … tidak usah disuruh pun, aku pasti mencatatnya. Bukankah aku memang menginginkannya. Segera kuraih pulpen dan kutulis sederet nomor telpon yang diberikan itu di tanganku.?
”Ok man. Thanks banget ya”, ucapku
”Sama-sama”, jawabnya
”udah dulu ya. Gue mau makan”.
”Ok. Sip”, balasku.

Jempol tanganku segera meliuk-liuk dan menari diatas keypad handphone-ku. Kutuliskan sebuah pesan singkat dan segera kukirimkan ke nomor wanita itu.

Tit … tit … tit .. tit. Ada SMS masuk ke nomorku. Segera kubaca. Ternyata wanita itu membalas pesanku. Akhirnya, kudapatkan juga nomor telpon seorang wanita yang bayangannya sangat mengusik alam pikiranku. Beberapa pesan pun telah berbalas.
”Mas, sotonya kalau dingin nggak enak lho”, penjual soto ayam mengingatkanku dengan logat sundanya yang kental. ”Oh iya … lagi asyik neh pak”
Heran. Aku jadi tidak selera lagi untuk makan nasi soto itu. Rasanya aku merasa kenyang seketika. Segera kubayar segelas es teh manis dan soto ayam yang masih tersisa setengahnya.

”Kok tidak dihabiskan, mas?”, tanya penjual itu agak heran.
?”Perut saya kurang beres nih, pak”, jawabku beralasan.
?”Wah .. kalau tidak dihabiskan ayamnya mati lho”, kelakarnya seolah aku ini masih balita.
?”Kalo gitu, sebelum ayamnya mati disembelih aja. Kan lumayan, buat jualan soto”, selorohku?
”Ah bisa aja si Mas”, ujar si penjual sambil membereskan sisa makanku.

?Mendapatkan nomor handphone dari seorang wanita, sebenarnya bukan merupakan hal yang aneh dan baru bagiku. Tapi entah, kenapa saat itu ada suatu perasaan yang hinggap ketika aku mendapatkan nomor telpon dari seorang wanita yang bernama … Indri.

***?
Kenapa senyum-senyum sendiri, Boss?”, tanya seorang Satpam di kantorku ketika berpapasan denganku,”Lagi seneng nih kayaknya”.?
”Ah … biasa aja pak. Katanya senyum itu ibadah”, sahutku mencoba berkilah.

Padahal dalam hati aku memang merasa senang. Tapi entahlah, sebatas apa senang itu, ataukah sebenarnya ada arti lain dibalik senyumku. Aku segera menuju ke kursiku dan segera kuteguk kopi di mejaku yang sudah dingin itu.

Hari ini, sebagian besar waktu kuhabiskan untuk saling kirim pesan dengan wanita itu.?Pesan singkat yang kadang hanya berisi sebuah kata ”Wekkss :P”. Benar-benar sebuah pesan singkat. Tapi sungguh, aku menikmatinya.

bersambung …

3 Comments

Add a Comment

Your email address will not be published.