Dan Wanita Itu … (9)

Bukan Untuk Diperdebatkan

Seketika mataku terbuka tatkala kurasakan sapuan sinar matahari yang masuk melalui jendela kamarku membelai hangat wajahku. Kulihat jam di dinding menunjukkan pukul 6.30 pagi. Tak biasanya aku bangun pagi pada hari Minggu. Entah perasaanku saja atau memang hari itu memang beda dibanding hari minggu yang lain. Atau karena sebelumnya aku tidak pernah bangun pagi di saat hari libur?

Secangkir kopi susu panas segera menemaniku menikmati pagi itu. Bangun pagi, mandi, terus minum kopi. Duhh … seperti anak mama saja waktu itu. Untung tidak ada yang menyeletuk, ”Daru … rapikan tempat tidurnya!”.

Hal apa yang akan aku kerjakan hari ini? Tidak ada rencana yang aku susun sebelumnya, bahkan rencana untuk bangun pagi pun tidak terpikir di malam sebelumnya. Atau sebaiknya kunikmati saja pagi ini dengan menonton siaran televisi?

Kunyalakan pesawat TV 21 inch yang ada di kamarku. Kucari siaran berita pagi di setiap saluran, tapi tak satupun stasiun televisi yang menyiarkannya. Hampir semua Channel diisi dengan tayangan infotainment. Apa karena ini hari Minggu, maka semua stasiun televisi menyiarkan acara gosip … gosip dan gosip? Apa tidak ada tayangan lain selain gosip? Kenapa harus gosip? Apa tidak ada acara yang lebih berguna selain gosip?
Huh!!!

Tatapan mataku tertuju pada sebuah kantong plastik warna putih yang tergeletak diatas TV. ”Apa itu?”, tanyaku dalam hati.

Segera kuraih kantong plastik yang ternyata isinya adalah sebuah Novel yang aku beli 2 hari yang lalu. Aku buka novel bersampul warna hijau tua yang masih terbungkus plastik dengan rapi. Meskipun sebenarnya mataku masih enggan, tapi setidaknya novel itu lebih menarik dibanding gosip.

Aku hanya membaca sekilas setiap halaman dari novel itu. Seketika aku teringat pada seorang sahabat yang sudah lama tidak bertemu, setelah aku mengetahui bahwa nama salah satu tokoh di novel itu mirip dengan nama sahabatku, seorang pujangga tua yang selalu menulis tentang cinta. Novel, cerpen, puisi dan semua tulisannya adalah tentang cinta … cinta … dan cinta.

Sudah lama aku tidak berkunjung ke rumahnya. Rumah sederhana di pinggiran kota Jakarta yang selalu tampak asri itu, selalu membuatku betah untuk berlama-lama berdiam disana.

***
”Assalamualaikum”, salamku pada si pemilik rumah, ketika aku sudah berdiri di depan pintu rumahnya.
”Waalaikumsalam. Masuk, Ru”, balasnya,”Nggak dikunci kok”.

Hah?! bagaimana dia tahu kalau itu aku? Bukankah pintu masih tertutup?

Segera kuputar gagang pintu yang memang tidak terkunci itu. Dari dalam, sosok orang yang memang ingin kutemui segera menyambutku. Segera kusalami orang tua itu.

Sudah lama tidak bertemu, ternyata orang tua itu masih tetap seperti dulu. Garis wajahnya yang keras tidak menampakkan sama sekali bahwa dia itu sebenarnya seorang pujangga, apalagi pujangga yang selalu bercerita tentang cinta. Penampilan sederhana dengan baju sorjan khas jogja, menjadi ciri penampilannya sehari-hari. Satu-satunya perubahan yang tampak hanyalah rambut putih yang mulai mendominasi.

”Gimana bapak tau kalau saya yang ketuk pintu?”, tanyaku menyelidik
”Aku hafal benar suaramu”, jawabnya,”Duduklah. Apa yang sedang kau pikirkan?”.

Gila!! Orang tua ini tahu kalau aku sedang memikirkan sesuatu. ”Sebenarnya dia ini dukun atau pujangga?”, tanyaku dalam hati.

”Bagaimana … ”, tanyanya
”Apanya yang bagaimana?”, aku balik bertanya.
”Ya bagaimana. Masalah apa yang membuatmu datang kesini?”
”Hmmm …. sebenarnya bukan masalah sih, pak?”, jawabku mengelak,”Cuman ….”
”Iya bukan masalah. Tapi pasti ada satu hal yang membuatmu kesini. Karena setiap kamu kesini, pasti membawa sesuatu yang sedang kamu pikirkan”, katanya memotong pembicaraanku sambil menghembuskan asap rokok kreteknya,”Katakan saja, Ru”.

Aku terdiam sesaat. Kemudian …

”Ceritakanlah padaku tentang arti cinta”, pintaku pada pujangga itu.
”He …he ..he ….”, orang tua itu terkekeh,”Cinta … kamu ingin tahu tentang cinta?”.

Orang tua itu ganti terdiam. Dihisapnya sekali lagi rokok kretek di mulutnya. Asap putih mengepul yang keluar dari mulut dan hidungnya memenuhi ruangan.

”Cinta itu adalah kenikmatan, kesejukan dan kebahagiaan. Cinta itu abstrak, tidak bisa dilihat tapi bisa dirasakan. Bukan dengan tangan, bukan dengan mata maupun indera yang lainnya. Tapi dengan hati dan jiwa”, lanjutnya dengan tatapan tajam ke arahku, seakan ingin menegaskan bahwa dia tidak main-main dengan ucapannya.

”Jika cinta itu adalah kebahagiaan, mengapa kadang kadang saya kecewa, sakit hati, dan terluka. Berarti cinta hanya omong kosong?”

”Tidak … cinta tidak pernah mengumbar janji ataupun omong kosong. Jika kamu terluka karena dia, berarti kamu belum benar-benar menghayati arti kehadirannya. Cinta hanya bisa dimengerti oleh hati dan jiwa. Maka jika hati dan jiwamu tidak bisa memahami arti cinta, kamu pasti akan merasa kecewa”, ungkapnya panjang lebar,”Cinta tidak bisa diartikan dengan hanya satu atau dua kalimat. Cinta itu kompleks dan luas artinya”.

Aku mencoba mencerna kata-katanya.

”Kamu tahu seluas apa?”, tanyanya lagi
Aku menggeleng.
”Cinta itu seluas dan sejauh mata kamu memandang.
Karena cinta itu tidak punya batas”, sambungnya.
”Tapi … banyak orang kecewa karena cinta”, sahutku tak memberi kesempatan dia untuk menghisap rokoknya.
”Jangan pernah menyalahkan cinta. Karena sebenarnya cinta itu tidak pernah salah”. ”Tapi … gara-gara cinta, ada juga orang yang bunuh diri. Itu kan berarti …”.

Sekali lagi dia memotong pembicaraanku,”Salah sendiri. Kenapa dia mesti repot-repot bunuh diri? Tidak usah bunuh diripun, suatu saat kita akan mati”.

”Cinta itu suci”, sambungnya,”Jangan pernah dikotori dengan perbuatan-perbuatan tolol seperti itu”.

Aku hanya manggut-manggut, meskipun sebenarnya aku belum juga menemukan jawaban pas seperti yang kuinginkan tentang cinta.

”Bagaimana kalau kita mencintai seseorang yang sebenarnya sudah tidak mungkin kita cintai. Apakah salah?”, tanyaku kemudian.

”Aku sudah bilang, bahwa cinta itu tidak pernah salah. Termasuk orang yang mencintai dan dicintai. Jika cinta itu adalah suatu kesalahan, maka semua yang ada di dunia ini harus dipersalahkan. Karena apa? Karena semua orang pernah jatuh cinta”.

Aku semakin bingung dengan penjelasannya. Mungkin karena aku memang sudah terlanjur bingung dengan keadaanku sekarang ini.

”Kalau aku jatuh cinta kepada seseorang yang saat ini tidak mungkin lagi untuk kumiliki?”
”Nikmati saja!”, jawabnya enteng.

Gila!!! Untuk ketiga kalinya aku menerima jawaban yang sama. Nikmati saja. Apanya yang mesti dinikmati? Bagaimana aku bisa menikmati sementara aku harus mencintai seseorang yang tidak mungkin memberikan cintanya kepadaku. Setidaknya untuk saat ini.

”Maksudnya?”, aku semakin tak mengerti
”Maksudnya … ya nikmati saja. Tidak usah bingung”, ujarnya disertai hembusan asap rokok dari mulutnya.
”Lagian … apa sanggup kamu untuk menghindari cinta? Apa sanggup untuk tidak mencinta dan dicinta? Bukan kamu yang memilih cinta, tapi cintalah yang memilih
kamu untuk mencintai seseorang. Jadi ….. Nikmati saja!”, lanjutnya.
Edann!!! Jawabannya selalu enteng, seolah-olah diatidak pernah kecewa karena cinta.
”Lalu .. kalau kita kecewa dan sakit hati karena cinta. Siapa yang harus disalahkan?”
”Tidak ada yang salah, dan tidak ada yang bisa disalahkan. Justru kamu seharusnya bersyukur masih bisa merasakan datangnya cinta. Dan mesti bersyukur lagi karena kam masih bisa kecewa dan sakit hati, karena itu berarti kamu masih hidup”.

Gubraggghhh!!!! Dasar pujangga sinting. Aku hanya menatap dia tanpa sanggup berkata apa-apa lagi.
”Bingung? Makanya jangan pernah lagi berdebat tentang cinta. Karena ujung-ujungnya pasti membingungkan”.
”Terus?”, aku semakin bingung.
”Ya nggak ada terusannya. Cinta itu bukan sesuatu untuk diperdebatkan, karena cinta itu milik Tuhan. Kalau kamu mau berdebat lagi, ya sana! Berdebat saja sama Tuhan”, jawabnya tetap enteng.

Kugaruk-garuk kepalaku. Jawaban orang tua yang terakhir ini telah membuatku sedikit memahami tentang cinta. Dalam kondisi apapun, cinta tetaplah cinta.
Dengan segala misterinya.

Kuperhatikan pujangga itu masih menikmati rokok kreteknya. Asap putih tebal mengepul keluar dari mulut dan hidungnya. Tidak tampak keraguan sama sekali yang terpancar dari wajahnya ketika dia menjelaskan tentang cinta.

”Cinta bukanlah sesuatu untuk diperdebatkan …
karena cinta itu milik Tuhan”

Bersambung ….

3 Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *