Tepian Tanpa Batas

Di usianya yang senja, nenek ini masih harus begadang hingga dini hari untuk menjual barang dagangan di lapaknya yang mungil. Tangan-tangan keriputnya masih cukup perkasa untuk mempompa lampu petromaknya yang juga sudah mulai usang. Demi menghidupi diri dan keluarganya usahanya tak pernah terhenti di tengah jalan, ibarat sebuah tepian tanpa batas.

Jogja, Januari 2003 pukul 00.30 dini hari. Ya, foto ini cukup lama tersimpan di hard disk saya dan baru kali ini bisa menuangkannya dalam sebuah coretan. Kekaguman saya tak pernah sirna ketika memandangi foto ini. Bukan kekaguman atas “nasibnya yang kurang beruntung”, melainkan kekaguman saya atas gigihnya perjuangan seorang wanita (nenek) demi hidup dan kehidupan.

Lalu sejenak, pikiran saya menerawang lebih jauh lagi ketika saya teringat sosok Ibu saya. Meskipun nasib ibu saya jauh lebih baik dari si nenek penjual rokok itu (ibu saya pensiunan guru), tapi saya yakin bahwa Ibu saya juga seorang perempuanĀ  yang tangguh. Berjuang demi hidup dan kehidupan kami, anak-anaknya. Sama tangguhnya dengan si nenek ini.

bersambung

One Comment

Add a Comment

Your email address will not be published.