Dan Wanita Itu … (3)

”Cerewet sih”, balasnya
”Biar cerewet tapi kan baik hati”, jawabku tak mau kalah.
”Udah sana … sana”, usirnya Aku hanya terkekeh. ”Udah dulu ya .. terima kasih permennya. Saya mesti tugas lagi”, kataku sambil beranjak berdiri dari kursi.
”Ya udah … cepetan sana”, usirnya lagi.

***

Aku pun harus kembali menikmati sisa waktu malam itu untuk berhadapan lagi dengan beberapa pengunjung. Pengunjung yang datang silih berganti, membuatku tak sempat lagi aku menghiraukan wanita itu, bahkan untuk sekedar meliriknya.

Waktu terus berlalu dan jumlah pengunjung pun semakin lama semakin berkurang. Aku melihat jam tanganku. Ooo … hampir jam 10 malam, dan itu berarti waktu pameran hari itu hampir habis. Sudah waktunya untuk bersiap-siap dan segera mengakhiri kesibukan malam itu. Waktunya untuk memanjakan tubuh yang sudah terasa remuk ini. Pufff …. lega rasanya lepas dari kepenatan, kebosanan dan keterpaksaan.

”Aku ganti baju dulu. Waktunya pulang”, kataku pada teman disebelahku
”Ok. Eh loe pulang kemana?”, tanyanya
”Ke kantor. Mobil gue di kantor. Tadi kesini diantar mobil kantor”, jawabku
”Ya udah. Barengan aja. Gue juga mau ke kantor dulu”, sahutnya,”Tapi naik apa?”.
”Mobil kantor kan ada yang standby disini”,
”Oh .. Ok”.

Setelah berganti baju, aku dan temanku segera menuju tempat parkir dimana mobil kantor yang akan membawa kami telah menunggu.

”Lho .. mau kemana? Curang ah, yang lain belum pulang kok situ pulang duluan”, kata seseorang menegurku ketika aku mulai melangkahkan kaki menuju tempat parkir. Aku segera menoleh ke arah suara itu. Ternyata, si wanita berjilbab itu yang menceploskan protes.

”Waktu dinas sudah habis, sekarang pulangggg”, kataku,”Lagian … kamu aja yang sok rajin. Jam segini masih di sini. Mau gantiin satpamnya?”
”Enak aja”, balasnya ”Makanya pulang” ”Ya sudahlah. Sana pulang duluan … lagian gak

ada ngaruhnya kok kalau kamu masih disini”, lanjutnya. Sementara aku hanya cengar-cengir. ”Ya sudah .. pulang dulu yeee”, pamitku ”Udah buruan sana!”, usirnya

”Daghhhh”, aku melambaikan tangan ”Dagghhh juga”, balasnya.


Hati yang tergoda

Hampir jam 11 malam saat aku tiba dirumah kost. Kegiatan hari ini benar-benar menguras tenagaku. Capek, gerah dan semua perasaan nggak enak campur aduk di tubuhku. Kurebahkan tubuhku diatas kursi bambu di teras depan kamarku.

Gila!!! Hari yang sangat melelahkan.

”Capek, tong?”, tanya teman kost-ku. Memang, aku dan temanku lebih sering memanggil satu sama lain dengan sebutan ”tong”. Tidak ada maksud lain, hanya sepertinya lebih terasa akrab saja.

”Yoi, biasalah. Kejar setoran”. Sementara aku melepas sepatuku, kucium aroma wangi kopi yang sejak dari pagi aku belum sempat meminumnya. ”Wuikk … mantap. Sampai rumah … kopi tersedia”, gurauku,”Kalau setiap hari begini, enak juga ya, tong”. ”Pale loe …”, balas temanku sambil menyodorkan segelas kopi hitam yang masih keluar asapnya.

”Hmmm … mantap”. Kuraih sebatang rokok putih. Asap putih mengepul dari mulutku. Terasa nikmat sekali kopi dan rokok malam itu. Mungkin karena hampir seharian aku tidak sempat menikmati keduanya.

Kuhembuskan asap rokok ke atas, dan kupandangi langit malam yang dihiasi dengan rangkaian bintang-bintang yang gemerlap.

”Kenapa loe senyum-senyum sendiri?”, tanya temanku ”Gue barusan kenal ama cewek”, sahutku ”Kenal ama cewek aja kok sampai segitunya?” ”Ini lain … ada yang aneh dengan cewek itu”

”Aneh? Punya jambang maksud loe?” ”Itu mah bencong, o’on” ”Ya loe bilang, cewek itu aneh. Aneh apanya?”, tanya temanku. ”Gak tau ya … ada yang aneh aja dari dia. Gak tau kenapa, gue seneng ngeliat dia”, sahutku ”Gimana loe gak seneng kalo liat cewek cantik”, gurau temanku ”Bukan. Ini bukan masalah dia cantik atau tidak. Tapi ini benar-benar aneh. Sejak pertama ngeliat dia, gue langsung suka”, jelasku

”Ha .. ha… ha… kebanyakan nonton film india loe”, ledek temanku ”Enak aja loe. Elo itu yang tampang film India”, balasku Dia hanya terkekeh

”Bentar, tong. Nonton TV dulu”, kata temanku sambil ngeloyor pergi.

Kesendirian telah membuat alam pikiranku kembali teringat akan seorang wanita yang baru saja aku kenal. Seorang wanita yang mampu membuatku terpesona pada pandangan pertama. Seorang wanita yang jika kutatap wajahnya, terasa ada sesuatu yang lain dibalik sinar matanya.

Perasaan yang untuk pertama kalinya terjadi padaku. Perasaan dimana aku mengagumi wanita pada pandangan pertama. Perasaan kagum yang tumbuh bukan lantaran kecantikannya, ataupun karena tubuhnya. Tapi karena sesuatu yang lain, sesuatu yang tidak bisa dilihat dari fisiknya, sesuatu yang hanya bisa dirasakan tanpa bisa dilihat.

Mungkin jika hanya fisik yang jadi acuan, tidak bisa dipungkiri bahwa masih banyak yang lebih cantik dari dia.

Tapi wanita itu? Ah, entahlah .. aku terlalu capek untuk menerka-nerka.

Bersambung …

2 Comments

Add a Comment

Your email address will not be published.