Digital Marketing apa Internet Marketing?

Digital marketing, pasti sebagian orang atau bahkan mungkin semua orang (termasuk saya tentunya) akan mengamini ketika mendengar pernyataan bahwa “digital marketing adalah aktifitas marketing yang dilakukan melalui internet”.

Ternyata pendapat itu tidak sepenuhnya benar, jika merujuk pada sebuah definisi sederhana yang terdapat di hampir setiap pojok rumah mbah Google.

Digital marketing didefinisikan sebagai cara untuk mempromosikan sebuah produk/brand dengan menggunakan segala bentuk iklan digital. Media yang digunakan adalah TV, Radio, digital billboard, mobile phone (SMS, MMS), email, web, dan segala sesuatu yang berbasis internet lainnya yang bertujuan untuk menjangkau target dalam waktu yang singkat, efektif dan efisien.

Nah loh!

Dengan merujuk definisi diatas, mungkin lebih tepat jika kita mengatakan bahwa aktifitas pemasaran yang dilakukan melalui internet dinamakan dengan INTERNET MARKETING.

Tetapi karena internet menjadi komponen utama dan terbesar dari aktifitas digital marketing, maka terjadi pergeseran definisi dimana digital marketing = Internet Marketing.

Apalagi  dengan munculnya modus baru yang dinamakan dengan social media marketing, hal ini semakin mengukuhkan bahwa digital marketing itu ya internet marketing, dan internet marketing adalah digital marketing.

Hal ini pastinya menimbulkan klaim sepihak yang menyatakan bahwa TV, Radio, SMS dan MMS adalah bukan bagian dari digital marketing.

Tapi untuk kasus ini, kita ikuti saja apa kata William Shakespear “Apalah arti sebuah nama”. Tidak perlu didiskusikan, diperdebatkan apalagi diperjuangkan :D

Karena sejatinya, konsep marketing di jaman nuklir seperti sekarang ini adalah konsep O2O (offline to online – online to offline)

Perlukah Sebuah Brand “Bermain” di Social Media?

Hari gini, siapa yang tidak kenal dengan social media? Sebut saja Facebook, Twitter, Path, Instagram, MindTalk dan lain-lain. Masing-masing platform mempunyai karakteristik, basis dan fungsi yang berbeda-beda. Social media begitu cepat berkembang. Trend perkembangan teknologi dan peran dari telco industry yang menjadikan social media sebagai “barang dagangan” adalah beberapa hal yang mendorong pertumbuhan tersebut.

Dan berdasar pada kenyataan bahwa manusia adalah makhluk sosial yang selalu berserikat/berkumpul, pengen eksis dan narsis. Tetapi karena seiring dengan berkurangnya waktu luang untuk berkumpul secara nyata, maka social media dijadikan tempat untuk memenuhi kebutuhan tersebut.

Di Indonesia, menurut MarkPlus (www.the-marketeers.com) jumlah pengguna internet di Indonesia pada akhir tahun 2012 telah menyentuh angka 61,1 juta orang atau naik sekitar 10% dari tahun 2011 yang berjumlah 55 juta orang.

Dan dari angka 61,1 juta tersebut, 94% diantaranya mengakses situs jejaring sosial (social media). Angka yang fantastis bukan?

Jadi tidaklah mengherankan jika Indonesia tercatat sebagai negara terbesar ke-4 sebagai pengguna jejaring sosial Facebook dengan jumlah sekitar 50 juta pengguna (sumber: socialbakers.com)

Dan twitter pun mencatat bahwa Indonesia adalah negara pengguna twitter terbesar ke-5 dengan angka sekitar 30 juta.

Dan yang tak kalah “hebatnya” adalah bahwa Jakarta adalah kota paling berisik di twitter sementara Bandung berada di peringkat ke-6.

 

Dari data-data diatas, terlihat jelas bahwa sebagian manusia berkumpul dalam suatu komunitas online. Dan brand “mau tidak mau” harus ikut bermain di jejaring sosial karena peluang yang ada disana cukup besar.

Apa saja peluang yang ada di social media?

  • Brand Awareness
    “Tak kenal maka tak sayang”, seperti yang tersirat dalam peribahasa tersebut maka jelas sekali diperlukan brand awareness yang kuat sehingga target market tahu apa yang sebuah brand coba untuk tawarkan.
  • Online PR
    PR atau public relation juga sangat perlu untuk dilakukan di social media sebagai bentuk usaha untuk meningkatkan imageatau profil sebuah brand di mata masyarakat.
  • Brand Engagement
    Sebuah brand bisa melakukan engagement secara intens dengan target market-nya . Jika sudah terjadi engagement yang kuat, tentunya akan timbul ikatan yang kuat antara brand dan target marketnya.
  • Brand Conversation
    Jika sebuah brand sudah menjadi bahan pembicaraan di social media (dalam hal ini tentunya pembicaraan yang positif) maka akan muncul peluang/potensi yang sangat besar untuk mengkonversikan percakapan tersebut menjadi sebuah prosentase dalam angka penjualan.

Karena begitu besarnya potensi yang ada di social media, sudah barang tentu akan diikuti oleh resiko yang sama besarnya. Jadi sangat penting bagi sebuah Brand untuk memiliki strategi, rencana dan persiapan baik dari sisi content maupun resource yang sangat matang sebelum mengelola sebuah akun di social media.

Kebalikannya, jika sebuah Brand memang belum siap maka sebaiknya tidak mencoba bermain di social media.

Salam marketer!