Dan Wanita Itu … (12)

Pukul 6 pagi aku harus bersiap untuk berangkat ke bandara karena rancananya pesawat take-off pukul 8.30 pagi. Jarak antara rumahku dengan bandara Soekarno-Hatta memang cukup jauh. Perjalanan bisa memakan waktu kurang lebih 40 menit jika lalu lintas dalam keadaan lancar.

”Assalamualaikum”, sapaku melalui handphone pada seseorang yang sedang aku telpon. Siapa lagi kalau bukan Indri,
”Waalaikumsalam”, sahutnya
”Lagi ngapain, sayang?”, kali ini aku mulai berani menggunakan kata ”sayang”. Sayang dalam arti yang sebenar-benarnya, bukan hanya sebagai pemanis bibir.
”Baru bangun”, sahutnya,”Berangkat jam berapa?”
”Harusnya sekarang udah berangkat. Tapi ditunda, nunggu penumpang dari Surabaya”, kataku agak kesal.
”Ya tungguin aja”
”Ya iyalah, masa berangkat sendiri,” sahutku,”Ya sudah dulu ya. Aku mau ngopi dulu, entar aku kabarin lagi kalo udah sampai sana”
”Ya udah. Hati-hati ya”, pesannya
”Kamu juga. Jangan bandel”, balasku
”Kamu yang bandel. Indri kan cantik”, guraunya
”Whatever”, sahutku,”Assalamualaikum”
”Waalaikumsalam”

Setelah penerbangan sempat ditunda beberapa jam, akhirnya pesawat tinggal landas menuju negeri tirai bambu. Perjalan lewat udara yang ditempuh dalam waktu kurang lebih lima jam itu, terasa sangat menjenuhkan. Selama penerbangan, yang bisa disaksikan hanya seluruh isi kabin, belum lagi film yang diputar adalah film-film lawas yang sudah sering disiarkan di televisi.

Sekitar pukul 6 sore waktu setempat, aku telah mendarat di Hong Kong yang merupakan pintu masuk ke Cina. Penerbangan yang menjemukan tadi, ternyata harus berkelanjutan. Karena untuk mencapai Shenzen, sebuah kota di pesisir dataran Cina, aku harus melalui perjalanan darat dengan bus selama hampir 3,5 jam. Betul-betul perjalanan yang melelahkan dan menjemukan.

Hampir tengah malam aku dan rombongan tiba di tempat penginapan. Hawa dingin mulai menyeruak menembus pori-pori. Perubahan cuaca yang mendadak dari panasnya Jakarta ke dinginnya udara di Shenzen mengakibatkan beberapa orang diantara kami harus mengalami serangan flu secara mendadak.

Setelah mandi air hangat dan melahap sepiring kentang goreng dan sepotong ayam goreng yang telah disediakan, angin malam mulai meninabobokanku.
Mengajakku segera berkelana menjelajahi alam bawah sadarku.

***

Sore, selepas kegiatan di kelas aku segera menuju ke kafe internet yang tersedia. Baru 3 hari aku meninggalkan Jakarta, tapi rasa kangen pada wanita itu tidak bisa ditahan lagi. Kutuliskan sebuah email untuk sekedar mengobati rasa kangenku pada wanita itu. Karena dengan tetap berkomunikasi dengan dia, tak pernah kurasakan kesepian yang melanda hari-hariku.
Sungguh!

”Baca email dong!”, sebuah pesan singkat baru saja aku terima.
”Sebentar lagi, aku masih jalan-jalan”. Aku membalasnya. Malam itu, aku dan rombongan sedang menikmati opera di sebuah gedung pertunjukan di down
town. Seumur-umur, baru sekali ini aku menyaksikan opera.

Lewat pukul 10 malam waktu Shenzen, aku sudah tiba di tempat penginapan. Aku langsung lari menuju kafe internet begitu pintu bus yang membawa aku dan
rombongan dibuka.

”What time it will be closed?”, tanyaku pada penjaga kafe internet.
”Twelve”, jawabnya
”Ooo…Ok”, sahutku.

Segera kubuka emailku. Diantara puluhan email yang
kuterima, terselip sebuah email yang dikirim oleh wanita
itu.

”Kapan pulang? Lama amat sihhhh. Jakarta sepi tanpa dirimu”

Sepenggal kalimat di awal email itu membuatku tersenyum. Memangnya selama ini yang bikin Jakarta ramai itu aku? Huh! Namun senyumku itu tak bertahan
lama. Ketika aku membaca paragraf terakhir di email itu, sontak darahku membeku. Mataku berbinar dan nafasku seakan berhenti untuk sesaat.

”Mas, ternyata baru kusadari selama ini kamu telah mengisi kekosongan jiwaku … ”

Aku urungkan niatku untuk membalas email itu, karena aku tidak tahu harus menulis apa? Pikiranku masih berkelana tak tentu rimba. Dan kuharap, besok aku sudah menemukan kalimat yang tepat untuk membalasnya. Terlepas apakah tulisan itu adalah benar kata hatinya atau hanya seuntai kalimat untuk menyenangkan aku. Entahlah … terlalu naif jika aku harus menebaknya.

Tapi yang jelas, aku sangat menghargainya.

***

Ini adalah malam terakhir aku berada di Shenzen, karena besok siang aku harus kembali ke Jakarta. Kota tempat tinggal sekaligus dimana disana terdapat seseorang yang sangat berarti bagiku, meskipun keadaan saat ini tidak bisa menyatukan aku dan dia.

”Waduh … lupa gue”, kataku seraya menepuk jidatku
”Kenapa, man?”, tanya Edi, temanku.
”Ke kota yuk. Gue lupa beliin kado”
”Buat siapa? Bini?”, tanyanya
”Iya. Buat bini …. bini orang”, jawabku enteng
”Ayolah”, sanggupnya tanpa banyak bertanya lagi.

Perjalanan ke kota memakan waktu hampir satu jam dengan biaya 7 RMB sekali jalan.

”Mau dibeliin apaan?”, tanya Edi
”Tau nih. Gue juga bingung”, sahutku sambil menoleh kekanan dan kekiri, berharap ada sesuatu yang bisa memberik ide.
”Baju cina aja”, sarannya

”Busyet”, jawabku
”Kenapa?”, tanyanya lagi
”Dia pake jilbab. Masa dikasih baju cina?”, jelasku
”Ya kan bisa dipake dirumah”, lanjutnya
”Ah jangan baju cina deh. Yang lain aja”, sahutku,”Kita ke Rainbow aja”.

Aku dan Edi segera menuju ke Rainbow, sebuah plaza yang berada di jantung kota Shenzen. Pandangan mata segera menyapu setiap sudut ketika aku sudah berada di lantai 1 plaza itu. Tidak ada yang menarik perhatianku.

”Naahhh … Jaket!”, kataku pada Edi ketika kami berdua sudah berada di lantai 2, dimana dipajang beberapa jaket untuk wanita.
”Jakarta panas, masa dikasih jaket?”, tanyanya ragu
”Panas kan diluar. Kalau di kantor kan dingin”, ucapku.
”Dia satu kantor sama kita?”, tanya Edi menyelidik..
”Eh .. enggak. Emangnya cuman kantor kita yang pakai AC”, kilahku karena aku tidak ingin semua orang tahu tentang siapa dan dimana wanita yang kumaksud.

Setelah beberapa saat aku memilih, akhirnya kutemukan juga model jaket yang pantas jika dipakai wanita itu. Ya, pantas menurut perkiraanku saja. Cocok atau tidak, itu urusan nanti.

”I take this”, kataku pada si penjaga,”How much?”
Penjaga itu hanya menatapku.
”How Much?”, aku mengulangi pertanyaanku.
Penjaga itu tampaknya mulai mengerti apa yang aku maksudkan. Dia menunjukkan sebuah papan yang bertuliskan angka.

”Ok. I take this”, kataku seraya menyerahkan jaket itu kepadanya. Si penjaga itu segera menulis nota pembelian dan menyerahkan kepadaku.

”Where is the cashier?”, tanyaku setelah aku tidak menemukan tempat kasir karena semua petunjuk dalam tulisan Cina. Penjaga itu pun hanya bengong. Setelah kuperlihatkan selembar Yuan, baru dia mengerti maksudku. Diantarkannya aku ke tempat kasir yang memang agak tersembunyi.

Kuserahkan nota pembelian dan beberapa lembar uang Yuan baru. Dibolak-baliknya uang itu, diraba dan diterawangnya.

”Edan. Dia pikir aku ini pemalsu uang apa?”, Dongkolku dalam hati. Tapi kubiarkan saja aksinya. Toh itu salah satu bentuk kewaspadaan.
”Thank you, Sir. Good Night”, kata kasir seraya menyerahkan bukti pembayaran dan uang kembalian.
”Good Evening”.

Aku segera kembali menemui si penjaga untuk menyerahkan bukti pembayaran.
”Ok. Thank you”, kataku setelah menerima bungkusan jaket. Penjaga itu hanya mengangguk.

***

Jam 9 waktu Shenzen, aku dan rombongan harus segera berangkat ke Hong Kong untuk kembali ke Jakarta. Perjalanan yang bakal melelahkan sudah terbayang di kelopak mata. Itu masih harus ditambah dengan barang bawaan yang bertambah berat karena barang belanjaan.

Hampir jam 1 siang, aku telah tiba di HongKong.

Bersambung …

Dan Wanita Itu … (11)

”Jika hanya wajah dan tubuh yang jadi ukuran, mungkin tidak seperti ini. Ada sesuatu yang membuat saya jatuh hati padanya. Sesuatu yang selama ini tidak saya temukan pada teman wanita saya. Sesuatu yang baru bagi saya. Dan terus terang, saya jatuh cinta sejak pertama bertemu”, paparku.

”Hmmm … cinta pada pandangan pertama. Jarang orang yang mengalaminya”, sahutnya.
Aku sedikit terkejut karena ternyata orang tua itu tidak menertawakanku. Sebelumnya aku mengira bahwa dia akan mengatakan seperti cerita sinetron saja. Ternyata tidak. Orang tua itu benar-benar seseorang yang memahami betul tentang arti cinta.

”Kamu harus bersyukur karena telah mengalaminya”, lanjutnya

Apanya yang mesti disyukuri? Justru karena cinta pada pandangan pertama itulah yang telah membawaku dalam keadaan serba sulit seperti saat ini. Suatu keadaan yang membuatku berharap akan sesuatu yang sebenarnya sangat sulit untuk diharapkan.

Aku berdiri untuk segera pamit pulang.
”Lain waktu, ajak dia kesini”, ledeknya lagi.
Aku hanya tersenyum mendengarnya.

***

Shenzen – Jakarta

”Daru, bisa kesini sebentar?”, sore itu atasanku tiba-tiba memanggil. Aku segera masuk ke ruangannya. Tidak ada tanda tanya sama sekali di benakku karena biasanya dia memanggilku untuk sekedar tukar pikiran. Memang selama ini aku memang cukup akrab dengannya.

”Yes, Sir?”, sapaku sesaat setelah aku duduk di kursi ruangannya.”
”Kamu mau ikut trainning nggak?”, tanyanya,”Tapi lama, sebulan”.
”Boleh”, jawabku
”Tapi kamu kan sudah mengajukan cuti. Kalau kamu ikut, berarti cutimu diundur”
”Saya belum mengajukan kok. Baru rencana”,
”Emangnya, dimana?”, tanyaku kemudian
”Cina”, katanya singkat.
”Nggak masalah. Setengah tahun juga nggak masalah”, kataku
”Ok kalau gitu. Kamu siapkan paspormu. Besok akan diurus visa-nya. 2 minggu lagi kamu berangkat”, jelasnya.
”Siap, Boss”

Aku segera beranjak dan kembali ke meja kerjaku karena ada beberapa pekerjaan yang masih menumpuk dan harus segera diselesaikan.

***

Tanpa bicara, aku menyerahkan bungkusan yang terlilit rapi dengan kertas kado berwarna biru.
”Apa ini?”, tanya Indri,”Boleh dibuka?”
”Buka aja”, jawabku singkat
Dia pun mulai membukanya.
”Kerudung. Alhamdulillah … terima kasih ya, Mas”,
ucapnya,”Ada dua toh”
Aku hanya mengangguk.

”Siapa yang milihin, Mas?”, tanyanya lagi
”Aku sendiri. Biru .. karena aku suka warna biru. Dan putih, iseng aja sih waktu itu. Asal comot”, lanjutku.
”Kok asal comot sih?”, protesnya
”Tapi bagus kan?”
”Iya sih”.
”Tapi kamu harus memakainya. Karena kalau nggak, aku tidak akan pernah memaafkanmu tujuh turunan”, ancamku
”Ya pasti aku pakai. Tapi sumpahnya kok lama amat. Tujuh turunan”.
”Biarin”.
”Tapi ini dalam rangka apa?”, tanyanya kemudian.
”Kado ulang tahun”, jawabku
”Tapi kan ulang tahunku masih lama. 2 bulan lagi”, dia mengingatkan.
”Iya tau. Tapi nggak apa-apa kan kalo kadonya duluan?”
”Ya nggak apa-apa sih”, jawabnya.
”Kemarin aku ke Mall sama temen. Iseng aja. Tau-tau kepingin saja membelikan kamu kerudung. Wanita kelihatan cantik kalau pakai jilbab”, kataku

Dia tertawa.

”Kenapa tertawa?”, tanyaku heran
”Akhirnya mengakui kalau aku cantik”, sahutnya.
”Lho, saya kan bilang wanita kelihatan cantik kalau pakai jilbab. Kalau kamu mah tetep aja jelek”, kilahku
”Lho … saya kan wanita juga”, protesnya
”Tapi jelek …”, timpalku.
”Bodo”, jawabnya singkat

”Aku mau ke Cina”, kataku kemudian
”Kapan?”, tanyanya
”2 minggu lagi aku berangkat”
”Ngapain kesana?”
”Trainning”, jawabku,”Mau ikut?”
”Maunya sih, tapi it’s too good to be true”, jawabnya
Aku hanya menanggapinya dengan tersenyum.

”Berapa orang yang berangkat, Mas?”
”12 orang”, sahutku
”Berapa lama. Seminggu?”, tanyanya
”Sebulan”
”Lama amat sih. Eh … tapi gak papa, asal nggak lupa oleh-olehnya?”, katanya sambil terkekeh.
”Dasar. Bukannya ngasih uang saku, malah minta oleholeh”, candaku

***

Awan gelap menggelayut di atas Jakarta, bersiap untuk menumpahkan butiran air hujan yang seolah sudah tidak sabar untuk membasahi bumi.
”Tadi kesini naik apa, Mas?”, tanya Indri padaku.
”Taksi. Pulangnya kamu antar ya?”, sahutku
Dia hanya mengangguk.

”Tunggu sebentar ya, Mas?”, katanya
Aku hanya mengangguk pelan.

Sore itu aku memang sengaja menemuinya di tempat kerja, karena esok harinya aku sudah harus bertolak ke Cina.

Tidak sampai 15 menit aku menunggu, dia sudah menemuiku lagi dengan tas kecil ditenteng di tangannya.
”Pulang?”, tanyaku
”Iya. Mas atau Indri yang bawa mobilnya?”, tanyanya
”Kamu aja. Gantian kamu yang nyopir”, sahutku

Tampaknya langit sudah sabar lagi untuk menunggu.
Baru beberapa ratus meter mobil bergerak meninggalkan tempat kerjanya, hujan deras mengguyur Jakarta.
”Besok berangkat jam berapa?”
”Pesawat jam setengah sembilan. Paling dari rumah sekitar jam enam gitu deh”.
”Jangan lupa oleh-olehnya ya?”, pesannya
”Apa sih yang nggak buat kamu?”, candaku
Sementara dia kembali tersenyum. Entah senyum untuk
apa?

”Eh mas. Ngopi yuk?”, ajaknya ketika kami melewati sebuah kafe yang cukup ternama di Jakarta.
”Ayuk”
”Tapi traktir”, rengeknya
”Hayuk aja”

Hujan pun akhirnya reda setelah puas mengguyur bumi ini. Dan sepertinya dia ingin menjadi saksi bahwa malam ini adalah awal dari perpisahanku dengan wanita itu hingga satu bulan ke depan. Mungkin satu bulan adalah waktu yang singkat, namun tidak bagiku. Karena aku harus terpisah ribuak kilometer dari seorang wanita yang sepertinya terlalu istimewa untuk kutinggalkan.

”Selamat tinggal ya. Jangan bandel”, ujarku sesaat setelah kami tiba di depan rumahku.
”Iya. Hati-hati”, sahutnya seraya menyambut uluran tanganku.

Aku hanya mengangguk. Diantara bias cahaya lampu jalan yang menerobos masuk melalui kaca mobil,

kupandangi wajah wanita itu.

”Sudah malam, Mas. Aku harus pulang”, ucapnya membuyarkan tatapanku.
”Hati-hati di jalan”
”Iya. Assalamualaikum”, pamitnya
”Waalaikumsalam”

Mobil berwarna biru tua metalik itu pun mulai meninggalkanku. Seandainya saja ada pilihan, sebenarnya aku ingin melewati malam ini dengan wanita
itu, tapi situasi dan keadaan memang tidak memungkinkan.
Hanya wangi aroma parfum dan bayangannya saja yang tertinggal menemaniku.

Bersambung …

Dan Wanita Itu … (9)

Bukan Untuk Diperdebatkan

Seketika mataku terbuka tatkala kurasakan sapuan sinar matahari yang masuk melalui jendela kamarku membelai hangat wajahku. Kulihat jam di dinding menunjukkan pukul 6.30 pagi. Tak biasanya aku bangun pagi pada hari Minggu. Entah perasaanku saja atau memang hari itu memang beda dibanding hari minggu yang lain. Atau karena sebelumnya aku tidak pernah bangun pagi di saat hari libur?

Secangkir kopi susu panas segera menemaniku menikmati pagi itu. Bangun pagi, mandi, terus minum kopi. Duhh … seperti anak mama saja waktu itu. Untung tidak ada yang menyeletuk, ”Daru … rapikan tempat tidurnya!”.

Hal apa yang akan aku kerjakan hari ini? Tidak ada rencana yang aku susun sebelumnya, bahkan rencana untuk bangun pagi pun tidak terpikir di malam sebelumnya. Atau sebaiknya kunikmati saja pagi ini dengan menonton siaran televisi?

Kunyalakan pesawat TV 21 inch yang ada di kamarku. Kucari siaran berita pagi di setiap saluran, tapi tak satupun stasiun televisi yang menyiarkannya. Hampir semua Channel diisi dengan tayangan infotainment. Apa karena ini hari Minggu, maka semua stasiun televisi menyiarkan acara gosip … gosip dan gosip? Apa tidak ada tayangan lain selain gosip? Kenapa harus gosip? Apa tidak ada acara yang lebih berguna selain gosip?
Huh!!!

Tatapan mataku tertuju pada sebuah kantong plastik warna putih yang tergeletak diatas TV. ”Apa itu?”, tanyaku dalam hati.

Segera kuraih kantong plastik yang ternyata isinya adalah sebuah Novel yang aku beli 2 hari yang lalu. Aku buka novel bersampul warna hijau tua yang masih terbungkus plastik dengan rapi. Meskipun sebenarnya mataku masih enggan, tapi setidaknya novel itu lebih menarik dibanding gosip.

Aku hanya membaca sekilas setiap halaman dari novel itu. Seketika aku teringat pada seorang sahabat yang sudah lama tidak bertemu, setelah aku mengetahui bahwa nama salah satu tokoh di novel itu mirip dengan nama sahabatku, seorang pujangga tua yang selalu menulis tentang cinta. Novel, cerpen, puisi dan semua tulisannya adalah tentang cinta … cinta … dan cinta.

Sudah lama aku tidak berkunjung ke rumahnya. Rumah sederhana di pinggiran kota Jakarta yang selalu tampak asri itu, selalu membuatku betah untuk berlama-lama berdiam disana.

***
”Assalamualaikum”, salamku pada si pemilik rumah, ketika aku sudah berdiri di depan pintu rumahnya.
”Waalaikumsalam. Masuk, Ru”, balasnya,”Nggak dikunci kok”.

Hah?! bagaimana dia tahu kalau itu aku? Bukankah pintu masih tertutup?

Segera kuputar gagang pintu yang memang tidak terkunci itu. Dari dalam, sosok orang yang memang ingin kutemui segera menyambutku. Segera kusalami orang tua itu.

Sudah lama tidak bertemu, ternyata orang tua itu masih tetap seperti dulu. Garis wajahnya yang keras tidak menampakkan sama sekali bahwa dia itu sebenarnya seorang pujangga, apalagi pujangga yang selalu bercerita tentang cinta. Penampilan sederhana dengan baju sorjan khas jogja, menjadi ciri penampilannya sehari-hari. Satu-satunya perubahan yang tampak hanyalah rambut putih yang mulai mendominasi.

”Gimana bapak tau kalau saya yang ketuk pintu?”, tanyaku menyelidik
”Aku hafal benar suaramu”, jawabnya,”Duduklah. Apa yang sedang kau pikirkan?”.

Gila!! Orang tua ini tahu kalau aku sedang memikirkan sesuatu. ”Sebenarnya dia ini dukun atau pujangga?”, tanyaku dalam hati.

”Bagaimana … ”, tanyanya
”Apanya yang bagaimana?”, aku balik bertanya.
”Ya bagaimana. Masalah apa yang membuatmu datang kesini?”
”Hmmm …. sebenarnya bukan masalah sih, pak?”, jawabku mengelak,”Cuman ….”
”Iya bukan masalah. Tapi pasti ada satu hal yang membuatmu kesini. Karena setiap kamu kesini, pasti membawa sesuatu yang sedang kamu pikirkan”, katanya memotong pembicaraanku sambil menghembuskan asap rokok kreteknya,”Katakan saja, Ru”.

Aku terdiam sesaat. Kemudian …

”Ceritakanlah padaku tentang arti cinta”, pintaku pada pujangga itu.
”He …he ..he ….”, orang tua itu terkekeh,”Cinta … kamu ingin tahu tentang cinta?”.

Orang tua itu ganti terdiam. Dihisapnya sekali lagi rokok kretek di mulutnya. Asap putih mengepul yang keluar dari mulut dan hidungnya memenuhi ruangan.

”Cinta itu adalah kenikmatan, kesejukan dan kebahagiaan. Cinta itu abstrak, tidak bisa dilihat tapi bisa dirasakan. Bukan dengan tangan, bukan dengan mata maupun indera yang lainnya. Tapi dengan hati dan jiwa”, lanjutnya dengan tatapan tajam ke arahku, seakan ingin menegaskan bahwa dia tidak main-main dengan ucapannya.

”Jika cinta itu adalah kebahagiaan, mengapa kadang kadang saya kecewa, sakit hati, dan terluka. Berarti cinta hanya omong kosong?”

”Tidak … cinta tidak pernah mengumbar janji ataupun omong kosong. Jika kamu terluka karena dia, berarti kamu belum benar-benar menghayati arti kehadirannya. Cinta hanya bisa dimengerti oleh hati dan jiwa. Maka jika hati dan jiwamu tidak bisa memahami arti cinta, kamu pasti akan merasa kecewa”, ungkapnya panjang lebar,”Cinta tidak bisa diartikan dengan hanya satu atau dua kalimat. Cinta itu kompleks dan luas artinya”.

Aku mencoba mencerna kata-katanya.

”Kamu tahu seluas apa?”, tanyanya lagi
Aku menggeleng.
”Cinta itu seluas dan sejauh mata kamu memandang.
Karena cinta itu tidak punya batas”, sambungnya.
”Tapi … banyak orang kecewa karena cinta”, sahutku tak memberi kesempatan dia untuk menghisap rokoknya.
”Jangan pernah menyalahkan cinta. Karena sebenarnya cinta itu tidak pernah salah”. ”Tapi … gara-gara cinta, ada juga orang yang bunuh diri. Itu kan berarti …”.

Sekali lagi dia memotong pembicaraanku,”Salah sendiri. Kenapa dia mesti repot-repot bunuh diri? Tidak usah bunuh diripun, suatu saat kita akan mati”.

”Cinta itu suci”, sambungnya,”Jangan pernah dikotori dengan perbuatan-perbuatan tolol seperti itu”.

Aku hanya manggut-manggut, meskipun sebenarnya aku belum juga menemukan jawaban pas seperti yang kuinginkan tentang cinta.

”Bagaimana kalau kita mencintai seseorang yang sebenarnya sudah tidak mungkin kita cintai. Apakah salah?”, tanyaku kemudian.

”Aku sudah bilang, bahwa cinta itu tidak pernah salah. Termasuk orang yang mencintai dan dicintai. Jika cinta itu adalah suatu kesalahan, maka semua yang ada di dunia ini harus dipersalahkan. Karena apa? Karena semua orang pernah jatuh cinta”.

Aku semakin bingung dengan penjelasannya. Mungkin karena aku memang sudah terlanjur bingung dengan keadaanku sekarang ini.

”Kalau aku jatuh cinta kepada seseorang yang saat ini tidak mungkin lagi untuk kumiliki?”
”Nikmati saja!”, jawabnya enteng.

Gila!!! Untuk ketiga kalinya aku menerima jawaban yang sama. Nikmati saja. Apanya yang mesti dinikmati? Bagaimana aku bisa menikmati sementara aku harus mencintai seseorang yang tidak mungkin memberikan cintanya kepadaku. Setidaknya untuk saat ini.

”Maksudnya?”, aku semakin tak mengerti
”Maksudnya … ya nikmati saja. Tidak usah bingung”, ujarnya disertai hembusan asap rokok dari mulutnya.
”Lagian … apa sanggup kamu untuk menghindari cinta? Apa sanggup untuk tidak mencinta dan dicinta? Bukan kamu yang memilih cinta, tapi cintalah yang memilih
kamu untuk mencintai seseorang. Jadi ….. Nikmati saja!”, lanjutnya.
Edann!!! Jawabannya selalu enteng, seolah-olah diatidak pernah kecewa karena cinta.
”Lalu .. kalau kita kecewa dan sakit hati karena cinta. Siapa yang harus disalahkan?”
”Tidak ada yang salah, dan tidak ada yang bisa disalahkan. Justru kamu seharusnya bersyukur masih bisa merasakan datangnya cinta. Dan mesti bersyukur lagi karena kam masih bisa kecewa dan sakit hati, karena itu berarti kamu masih hidup”.

Gubraggghhh!!!! Dasar pujangga sinting. Aku hanya menatap dia tanpa sanggup berkata apa-apa lagi.
”Bingung? Makanya jangan pernah lagi berdebat tentang cinta. Karena ujung-ujungnya pasti membingungkan”.
”Terus?”, aku semakin bingung.
”Ya nggak ada terusannya. Cinta itu bukan sesuatu untuk diperdebatkan, karena cinta itu milik Tuhan. Kalau kamu mau berdebat lagi, ya sana! Berdebat saja sama Tuhan”, jawabnya tetap enteng.

Kugaruk-garuk kepalaku. Jawaban orang tua yang terakhir ini telah membuatku sedikit memahami tentang cinta. Dalam kondisi apapun, cinta tetaplah cinta.
Dengan segala misterinya.

Kuperhatikan pujangga itu masih menikmati rokok kreteknya. Asap putih tebal mengepul keluar dari mulut dan hidungnya. Tidak tampak keraguan sama sekali yang terpancar dari wajahnya ketika dia menjelaskan tentang cinta.

”Cinta bukanlah sesuatu untuk diperdebatkan …
karena cinta itu milik Tuhan”

- Bersambung …. -