Merah Putih … Dulu dan Sekarang

Mbah Cantrik, seorang veteran 45 ngobrol-ngobrol santai sama cucunya.

“Kok bendera merah putihnya belum dipasang? Sebentar lagi kan peringatan hari kemerdekaan bangsa kita”, kata mbah Cantrik kepada si Gendon, cucu-nya yang paling di sayanginya.

“Besok-besok aja lah, mbah. Belum ada tiangnya. Susah nyarinya”, jawab Gendon

“Lha wong cuman nyari tiang aja lho kok susah. Lebih susah dulu, waktu kakek ikut perang kemerdekaan. Mau ngibarin bendera saja, taruhannya nyawa”, timpal mbah Cantrik sambil mengisap rokok kreteknya

“Lagian negara kita ini juga belum bener-bener merdeka kok, mbah. Korupsi banyak, sekolah mahal, apa-apa mahal. Apanya yang perlu diperingati”, balas Gendon

“Ya kamu gak usah mikir yang jauh-jauh begitu. Anggap saja, dengan mengibarkan bendera merah putih, kamu menghargai simbah. Juga menghargai teman-teman simbah yang sudah berjuang untuk bangsa ini. Teman-teman simbah yang mati banyak. Jadi anggap saja kamu mengenang dan menghargai pengorbanan mereka”, kata mbah Cantrik serius, dan terlihat ada titik air diujung matanya

“Nggih, mbah. Besok pagi pasti saya pasang”, jawab si Gendon lirih.



One thought on “Merah Putih … Dulu dan Sekarang

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>