Balada Negeri Nirwana

Alkisah dalam sebuah kitab kuno diceritakan tentang sebuah negeri yang subur dan kaya raya. Bahkan ada pledoi yang mengatakan “tongkat kayu dan batu jadi tanaman”. Bisa dibayangkan betapa suburnya negeri itu. Bahkan konon kabarnya, di perut bumi dimana negeri itu berpijak, terdapat segala jenis kekayaan alam yang berlimpah. Sungguh negeri yang kaya raya. Ya … Itulah gambaran singkat tentang sebuah negeri yang bernama Negeri Nirwana.

Namun dikisahkan pula dalam kitab kuno itu, meskipun negeri itu sangat subur dan kaya akan kekayaan alam, tetapi negeri itu ternyata masih menggantungkan hidupnya dari negeri lain yang sebenarnya tidak sesubur dan sekaya negeri Nirwana. Ironis šŸ™

Negeri Nirwana, seperti yang disebutkan dalam sebuah pledoi “tongkat kayu dan batu jadi tanaman”, pada kenyataannya malah menjadi salah satu negeri yang rajin membeli kebutuhan pangan dari negeri lain. Beras, ikan bahkan garam pun diimpor. Padahal juga diceritakan bahwa lebih dari 1/3 wilayah negeri itu adalah lautan. Dan bukankah seharusnya ikan pun berlimpah? Dan bukankah garam itu terbuat dari air laut?.

Apalagi beras. Kenapa harus impor? Lha wong tongkat kayu aja ditancapkan begitu saja jadi tanaman, ya toh? Sekali lagi …. Ironis emang.

Dikisahkan juga, ada sebuah gunung yang terdapat di negeri itu berisi kandungan tembaga, emas dan batu-batu berharga mahal lainnya. Bahkan gunung itu telah berubah menjadi jurang karena terus menerus digali selama puluhan tahun.

Secara logika, harusnya negeri itu berperan sebagai pemasok kebutuhan bagi negara lain dan bukan malah sebaliknya. Dan seharusnya pula, negeri itu adalah sebuah negeri yang teramat kaya. Dan seharusnya … Seharusnya …. Seharusnya. Ah, kita cukupkan saja kata-kata “seharusnya” itu sampai disini.

Lalu kenapa, di kitab kuno itu juga disebutkan bahwa negeri Nirwana itu dalam kondisi yang kurang baik (kalau tidak boleh disebut terpuruk) ?

Lalu kemana para dewa? Bukankah mereka biasanya tinggal di Nirwana? Hmmm …. Mungkin para dewa sudah enggan untuk tinggal di negeri Nirwana karena melihat ketamakan dan ketidakberesan yang selalu terjadi di negeri itu.

Ahhhh …. Hari sudah malam. Sebaiknya saya tutup saja kitab kuno ini dan bergegas untuk tidur. Dan semoga keadaan yang ironis di negeri Nirwana tidak terjadi di negeri saya, Indonesia!

4 Comments

Leave a Reply to Nusantara Widyandaru Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *