Mengejar Santunan Penuh Resiko

Sekali lagi, kericuhan terjadi pada saat pembagian santunan kepada fakir miskin. Hari ini saja, sudah ada 2 berita di TV yang melaporkan kejadian yang sama di 2 tempat berbeda. Orang tua, perempuan dan anak kecil terhimpit di tengah kerumunan massa. Bukan puluhan, tetapi ratusan orang. Bayangkan, betapa besar resiko yang harus mereka ambil demi “sekedar” beberapa lembar uang ribuan

Kejadian seperti itu sudah sering terjadi. Dan sepertinya, masing-masing tidak belajar dari pengalaman. Tahun kemarin, berapa nyawa melayang karena terjepit dan terinjak? Haruskah korban berjatuhan lagi?

Terlepas dari niat baik si pemberi santunan atau sedekah, bukankah sebaiknya juga dipikirkan cara-cara pemberian santunan yang lebih baik lagi? Sehingga niat baik itu tidak “tercemar” dengan timbulnya korban.

Pemberian santunan atau sedekah, mungkin bisa dilakukan dengan cara “menjemput bola”, misalnya dengan membagi per-RT atau per-RW atau ke tempat-tempat konsentrasi orang-orang yang masuk dalam golongan yang berhak menerima santunan. Sehingga tidak terjadi penumpukan massa di satu titik.

Memang, dengan cara seperti itu diperlukan effort tambahan karena harus menambah personil sebagai kurir santunan. Tetapi sekali lagi, resiko jatuhnya korban bisa sangat diminimalisir.

Sekali lagi, niat yang baik dan tulus akan jauh lebih bermakna jika tidak ada satu “korban” pun karena itu. Bukankah santunan, sedekah atau apapun namanya, bertujuan untuk sedikit meringankan beban hidup kaum dhuafa dan bukan untuk menambah masalah?

Selamat berbagi