Kata Mereka Tentang Hidup & Kehidupan (1)

Suatu ketika Harjuna sedang berada di Jogja. Karena Harjuna datang dari kota metropolitan, dia memilih becak untuk sekedar berputar-putar di sekitar Malioboro dan alun-alun.

Karena ada yang harus dibeli, Harjuna meminta Pak Cantrik, si tukang becak untuk berhenti di depan sebuah Mall.

“Pak, sebentar ya. Ini bawa dulu”, kata Harjuna ke pak Cantrik seraya menyerahkan selembar uang 50.000

“Nggak usah, mas. Dibayar nanti saja”, balas pak Cantrik

“Loh, kalau saya gak balik gimana? Bapak gak dapat bayaran dong”, ujar Harjuna sedikit bercanda

“Ya berarti belum rejeki saya, mas”, ucap pak Cantrik santai

Jleb!!!! Harjuna terdiam dan langsung masuk ke Mall

20 menit kemudian, Harjuna keluar dari mall dan ternyata pak Cantrik masih setia menunggunya.

“Terima kasih lho pak, masih menunggu”

“Sama-sama, mas. Kan tadi saya udah janji mau nungguin. Janji itu hutang, mas. Saya takut punya hutang. Soalnya janji atau hutang itu urusannya gak cuman sama manusia, tapi juga sama Gusti Allah”.

Jleb!!! Lagi

“Pak, kita ngopi dulu lah. Dari tadi belum ngopi”, pinta Harjuna

Pak Cantrik mengayuh becaknya mengarah ke alun-alun. Disana mereka akhirnya ngopi di warung lesehan yang banyak terdapat di sekitar alun-alun.

“Pak, kalau tadi misalnya saya ini brengsek dan benar-benar gak balik ke becak bapak. Gimana dong?”, tanya Harjuna membuka percakapan

“Ya itu tadi mas. Berarti belum rejeki saya”, jawab pak Cantrik

“Tapi gak bisa gitu juga pak. Orang kan beda-beda. Ada yang bisa dipegang omongannya, ada yang gak bisa juga”, ujar Harjuna

“Yang saya pegang cuman omongan Gusti Allah, mas”, tukas pak Cantrik lagi,”Berbuatlah baik dan iklhas karena Allah, niscaya Allah akan menggantinya dengan kebaikan-kebaikan yang lain”

“Maaf lho pak. Bapak nyari rejekinya kan dari becak. Lha kalo udah ngayuh capek-capek dan ternyata gak diberi ongkos, itu kan namanya ditipu”, sergah Harjuna

“Ya mungkin belum rejeki saya,” jawab pak Cantrik mengulangi pernyataannya tadi.

“Selain itu, saya ikhlaskan sebagai sedekah saya. Mungkin orang yang nipu saya, hidupnya lebih susah dari saya. Saya ini kan orang miskin, kalau sedekah uang mungkin saya gak sanggup. Ya sedekahnya dengan cara lain saja”, sambung pak Cantrik

Jleb! Jleb! Jleb!

Harjuna terdiam.

“Ada ya orang kayak begini. Begitu ikhlasnya dia menjalani hidup dan menghadapi kehidupan dengan selalu mengembalikannya kepada Tuhan”, Harjuna bicara dalam hati

Obrolan mereka pun berlanjut hingga tengah malam sebelum akhirnya Harjuna diantarkan Pak Cantrik kembali ke Hotel.

Mengejar Santunan Penuh Resiko

Sekali lagi, kericuhan terjadi pada saat pembagian santunan kepada fakir miskin. Hari ini saja, sudah ada 2 berita di TV yang melaporkan kejadian yang sama di 2 tempat berbeda. Orang tua, perempuan dan anak kecil terhimpit di tengah kerumunan massa. Bukan puluhan, tetapi ratusan orang. Bayangkan, betapa besar resiko yang harus mereka ambil demi “sekedar” beberapa lembar uang ribuan

Kejadian seperti itu sudah sering terjadi. Dan sepertinya, masing-masing tidak belajar dari pengalaman. Tahun kemarin, berapa nyawa melayang karena terjepit dan terinjak? Haruskah korban berjatuhan lagi?

Terlepas dari niat baik si pemberi santunan atau sedekah, bukankah sebaiknya juga dipikirkan cara-cara pemberian santunan yang lebih baik lagi? Sehingga niat baik itu tidak “tercemar” dengan timbulnya korban.

Pemberian santunan atau sedekah, mungkin bisa dilakukan dengan cara “menjemput bola”, misalnya dengan membagi per-RT atau per-RW atau ke tempat-tempat konsentrasi orang-orang yang masuk dalam golongan yang berhak menerima santunan. Sehingga tidak terjadi penumpukan massa di satu titik.

Memang, dengan cara seperti itu diperlukan effort tambahan karena harus menambah personil sebagai kurir santunan. Tetapi sekali lagi, resiko jatuhnya korban bisa sangat diminimalisir.

Sekali lagi, niat yang baik dan tulus akan jauh lebih bermakna jika tidak ada satu “korban” pun karena itu. Bukankah santunan, sedekah atau apapun namanya, bertujuan untuk sedikit meringankan beban hidup kaum dhuafa dan bukan untuk menambah masalah?

Selamat berbagi