Mengejar Santunan Penuh Resiko

Sekali lagi, kericuhan terjadi pada saat pembagian santunan kepada fakir miskin. Hari ini saja, sudah ada 2 berita di TV yang melaporkan kejadian yang sama di 2 tempat berbeda. Orang tua, perempuan dan anak kecil terhimpit di tengah kerumunan massa. Bukan puluhan, tetapi ratusan orang. Bayangkan, betapa besar resiko yang harus mereka ambil demi “sekedar” beberapa lembar uang ribuan

Kejadian seperti itu sudah sering terjadi. Dan sepertinya, masing-masing tidak belajar dari pengalaman. Tahun kemarin, berapa nyawa melayang karena terjepit dan terinjak? Haruskah korban berjatuhan lagi?

Terlepas dari niat baik si pemberi santunan atau sedekah, bukankah sebaiknya juga dipikirkan cara-cara pemberian santunan yang lebih baik lagi? Sehingga niat baik itu tidak “tercemar” dengan timbulnya korban.

Pemberian santunan atau sedekah, mungkin bisa dilakukan dengan cara “menjemput bola”, misalnya dengan membagi per-RT atau per-RW atau ke tempat-tempat konsentrasi orang-orang yang masuk dalam golongan yang berhak menerima santunan. Sehingga tidak terjadi penumpukan massa di satu titik.

Memang, dengan cara seperti itu diperlukan effort tambahan karena harus menambah personil sebagai kurir santunan. Tetapi sekali lagi, resiko jatuhnya korban bisa sangat diminimalisir.

Sekali lagi, niat yang baik dan tulus akan jauh lebih bermakna jika tidak ada satu “korban” pun karena itu. Bukankah santunan, sedekah atau apapun namanya, bertujuan untuk sedikit meringankan beban hidup kaum dhuafa dan bukan untuk menambah masalah?

Selamat berbagi

Sahur on the Road

Sabtu, 13 Agustus 2011 dini hari, untuk pertama kalinya saya ikutan Sahur on the Road. Pengalaman yang melelahkan sekaligus menyenangkan.

00.15 WIB dini hari, seorang teman menjemput saya di white house #7 (nama rumah saya: red) untuk kemudian menuju ke titik kumpul dengan teman-teman yang lain di daerah selatan.

02.20, Setelah semua berkumpul termasuk urusan logistik yang akan dibagikan pun kelar, kemudian kami melanjutkan perjalanan menuju TKP.

02.45, Kami tiba di TKP. Sebuah lokasi yang gelap gulita dan dihiasi dengan tumpukan sampah dan barang rongsokan serta aroma yang khas. Ya … Target kami waktu itu adalah komplek pemulung di daerah selatan Jakarta. Lokasi tepatnya saya sendiri tidak tahu, maklum … Itu adalah kali pertama saya masuk ke daerah antah berantah.

Sedikit rasa was-was menghinggapi benak saya. Maaf, bukan berarti saya berfikiran negatif atau berprasangka buruk terhadap orang-orang yang kami kunjungi, tetapi hanya sekedar sikap hati-hati dan waspada. Sah-sah saja kan?

Silakan dibayangkan, dalam kondisi gelap gulita dan ditengah tumpukan barang rongsokan serta sampah dengan bau menyengat, kami disambut puluhan orang yang sangat asing bagi kami. Sementara rombongan kami hanya terdiri dari 7 orang dengan komposisi 3 laki-laki dan 4 perempuan plus 3 mobil. Sangat wajar jika ada perasaan waspada di benak saya.

Tapi syukurlah, semuanya berjalan lancar tanpa ada kejadian negatif kecuali sempat terjadi kericuhan kecil dimana diantara mereka ada yang saling berebut. Waduh … Padahal logistik yang kami bawa itu sebanding sama jumlah mereka. Yaa mungkin ada yang mengambil double :) *sedih juga sih, dalam keadaan seperti itu kok ya masih rebutan*

03.15, Rombongan meninggalkan lokasi dengan sedikit rasa gatal di kaki. Ya mau gimana lagi, baru saja kita melalui “medan bakteri” :)

03.30, Kami tiba di lokasi kedua. Hanya saja kali ini tempatnya jauh lebih beradab :) tidak ada tumpukan sampah apalagi baunya. Ya, karena TKP yang ini adalah sebuah panti asuhan.

04.00, Semua logistik yang ada di mobil kami sudah selesai dibagikan. Sahur on the Road pun diakhiri dengan sahur bersama rombongan dengan sedikit tergesa-gesa. Hmmmm … Sahur paling tidak nyaman dalam sejarah :)

Tapi disamping rasa lelah dan ngantuk, ada satu perasaan yang sangat menyenangkan. Yaa … Senang karena saya masih diberi kenikmatan berupa kesempatan untuk berbagi dan juga kesempatan untuk menjalani hidup yang jauh lebih baik dari mereka.