Menuju Kursi DKI 1

Ridwan Kamil, Ganjar Pranowo dan Ahok bisa jadi bakal berebut kursi DKI 1. Sah-sah aja, karena dalam demokrasi itu adalah hak setiap individu untuk memilih dan dipilih, mencalonkan dan dicalonkan.

Tapi menurut saya pribadi, bangsa ini masih kurang pemimpin yang cukup bagus (jika tidak boleh dikatakan bagus). Jadi sebaiknya, mereka bertiga tetap berada di “daerah kekuasaannya” masing-masing saat ini, untuk melanjutkan program-program pembangunan yang sudah dicanangkan. Kecuali Ridwan Kamil, bolehlah “naik pangkat” jadi JABAR 1.

Dan kalaupun akhirnya mereka bertiga bertarung di DKI, ya gak apa-apa juga. Gak ada dosanya kok. Hanya saja bisa dipastikan, bakal ada 2 calon gubernur yang bakalan “nganggur” karena hanya ada 1 gubernur di DKI.

Seperti di awal coretan, kita ini masih kekurangan stock pemimpin yang cukup bagus. Dan seandainya saya berkuasa untuk menentukan, saya pasti akan menyebar mereka, supaya semua daerah memiliki pemimpin yang hebat (bukan penguasa) … dan bukan malah mengadunya dalam 1 tempat.

Tapi sekali lagi, sah-sah saja mengadu mereka di DKI 1. Karena inilah yang dinamakan dengan demokrasi.

Terampasnya Hak Pejalan Kaki di Ibukota

Jakarta oh Jakarta … kota yang penuh raga. Sosial, ekononomi, budaya, kemacetan, banjir, panas dan segala macam hal tumplek blek di kota metropolitan ini. Belum lagi ego dari masyarakat yang bisa dibilang “sak karepe dhewe & saling serobot”.

Di Jakarta ini, banyak sekali trotoar yang beralih fungsi. Yang seharusnya untuk pejalan kaki, menjadi tempat jualan dan bahkan parkiran. Hak pejalan kaki sudah diserobot dan dirampas. Beralihnya fungsi trotoar, selain melanggar peraturan dan ketentuan juga menyisakan satu ancaman. Ancaman terhadap keselamatan dari pejalan kaki. Ketika para pejalan kaki tidak mendapatkan jalur yang sebenarnya, mereka terpaksa harus turun ke badan jalan.

Disinilah ancaman keselamatan berawal. Manusia pejalan kaki harus berbagi tempat dengan kendaraan yang melintas. Ruang yang sempit menyebabkan peluang terjadinya benturan menjadi sangat besar. Dan ketika terjadi benturan, siapa korbannya? Tentunya adalah si pejalan kaki.

Kembalikan Hak Pejalan Kaki

Marilah kita semua melepaskan ego masing-masing, tetap berada pada tempat yang seharusnya, tidak saling serobot dan merampas hak-hak orang lain.