Dan Wanita Itu … (12)

Pukul 6 pagi aku harus bersiap untuk berangkat ke bandara karena rancananya pesawat take-off pukul 8.30 pagi. Jarak antara rumahku dengan bandara Soekarno-Hatta memang cukup jauh. Perjalanan bisa memakan waktu kurang lebih 40 menit jika lalu lintas dalam keadaan lancar.

”Assalamualaikum”, sapaku melalui handphone pada seseorang yang sedang aku telpon. Siapa lagi kalau bukan Indri,
”Waalaikumsalam”, sahutnya
”Lagi ngapain, sayang?”, kali ini aku mulai berani menggunakan kata ”sayang”. Sayang dalam arti yang sebenar-benarnya, bukan hanya sebagai pemanis bibir.
”Baru bangun”, sahutnya,”Berangkat jam berapa?”
”Harusnya sekarang udah berangkat. Tapi ditunda, nunggu penumpang dari Surabaya”, kataku agak kesal.
”Ya tungguin aja”
”Ya iyalah, masa berangkat sendiri,” sahutku,”Ya sudah dulu ya. Aku mau ngopi dulu, entar aku kabarin lagi kalo udah sampai sana”
”Ya udah. Hati-hati ya”, pesannya
”Kamu juga. Jangan bandel”, balasku
”Kamu yang bandel. Indri kan cantik”, guraunya
”Whatever”, sahutku,”Assalamualaikum”
”Waalaikumsalam”

Setelah penerbangan sempat ditunda beberapa jam, akhirnya pesawat tinggal landas menuju negeri tirai bambu. Perjalan lewat udara yang ditempuh dalam waktu kurang lebih lima jam itu, terasa sangat menjenuhkan. Selama penerbangan, yang bisa disaksikan hanya seluruh isi kabin, belum lagi film yang diputar adalah film-film lawas yang sudah sering disiarkan di televisi.

Sekitar pukul 6 sore waktu setempat, aku telah mendarat di Hong Kong yang merupakan pintu masuk ke Cina. Penerbangan yang menjemukan tadi, ternyata harus berkelanjutan. Karena untuk mencapai Shenzen, sebuah kota di pesisir dataran Cina, aku harus melalui perjalanan darat dengan bus selama hampir 3,5 jam. Betul-betul perjalanan yang melelahkan dan menjemukan.

Hampir tengah malam aku dan rombongan tiba di tempat penginapan. Hawa dingin mulai menyeruak menembus pori-pori. Perubahan cuaca yang mendadak dari panasnya Jakarta ke dinginnya udara di Shenzen mengakibatkan beberapa orang diantara kami harus mengalami serangan flu secara mendadak.

Setelah mandi air hangat dan melahap sepiring kentang goreng dan sepotong ayam goreng yang telah disediakan, angin malam mulai meninabobokanku.
Mengajakku segera berkelana menjelajahi alam bawah sadarku.

***

Sore, selepas kegiatan di kelas aku segera menuju ke kafe internet yang tersedia. Baru 3 hari aku meninggalkan Jakarta, tapi rasa kangen pada wanita itu tidak bisa ditahan lagi. Kutuliskan sebuah email untuk sekedar mengobati rasa kangenku pada wanita itu. Karena dengan tetap berkomunikasi dengan dia, tak pernah kurasakan kesepian yang melanda hari-hariku.
Sungguh!

”Baca email dong!”, sebuah pesan singkat baru saja aku terima.
”Sebentar lagi, aku masih jalan-jalan”. Aku membalasnya. Malam itu, aku dan rombongan sedang menikmati opera di sebuah gedung pertunjukan di down
town. Seumur-umur, baru sekali ini aku menyaksikan opera.

Lewat pukul 10 malam waktu Shenzen, aku sudah tiba di tempat penginapan. Aku langsung lari menuju kafe internet begitu pintu bus yang membawa aku dan
rombongan dibuka.

”What time it will be closed?”, tanyaku pada penjaga kafe internet.
”Twelve”, jawabnya
”Ooo…Ok”, sahutku.

Segera kubuka emailku. Diantara puluhan email yang
kuterima, terselip sebuah email yang dikirim oleh wanita
itu.

”Kapan pulang? Lama amat sihhhh. Jakarta sepi tanpa dirimu”

Sepenggal kalimat di awal email itu membuatku tersenyum. Memangnya selama ini yang bikin Jakarta ramai itu aku? Huh! Namun senyumku itu tak bertahan
lama. Ketika aku membaca paragraf terakhir di email itu, sontak darahku membeku. Mataku berbinar dan nafasku seakan berhenti untuk sesaat.

”Mas, ternyata baru kusadari selama ini kamu telah mengisi kekosongan jiwaku … ”

Aku urungkan niatku untuk membalas email itu, karena aku tidak tahu harus menulis apa? Pikiranku masih berkelana tak tentu rimba. Dan kuharap, besok aku sudah menemukan kalimat yang tepat untuk membalasnya. Terlepas apakah tulisan itu adalah benar kata hatinya atau hanya seuntai kalimat untuk menyenangkan aku. Entahlah … terlalu naif jika aku harus menebaknya.

Tapi yang jelas, aku sangat menghargainya.

***

Ini adalah malam terakhir aku berada di Shenzen, karena besok siang aku harus kembali ke Jakarta. Kota tempat tinggal sekaligus dimana disana terdapat seseorang yang sangat berarti bagiku, meskipun keadaan saat ini tidak bisa menyatukan aku dan dia.

”Waduh … lupa gue”, kataku seraya menepuk jidatku
”Kenapa, man?”, tanya Edi, temanku.
”Ke kota yuk. Gue lupa beliin kado”
”Buat siapa? Bini?”, tanyanya
”Iya. Buat bini …. bini orang”, jawabku enteng
”Ayolah”, sanggupnya tanpa banyak bertanya lagi.

Perjalanan ke kota memakan waktu hampir satu jam dengan biaya 7 RMB sekali jalan.

”Mau dibeliin apaan?”, tanya Edi
”Tau nih. Gue juga bingung”, sahutku sambil menoleh kekanan dan kekiri, berharap ada sesuatu yang bisa memberik ide.
”Baju cina aja”, sarannya

”Busyet”, jawabku
”Kenapa?”, tanyanya lagi
”Dia pake jilbab. Masa dikasih baju cina?”, jelasku
”Ya kan bisa dipake dirumah”, lanjutnya
”Ah jangan baju cina deh. Yang lain aja”, sahutku,”Kita ke Rainbow aja”.

Aku dan Edi segera menuju ke Rainbow, sebuah plaza yang berada di jantung kota Shenzen. Pandangan mata segera menyapu setiap sudut ketika aku sudah berada di lantai 1 plaza itu. Tidak ada yang menarik perhatianku.

”Naahhh … Jaket!”, kataku pada Edi ketika kami berdua sudah berada di lantai 2, dimana dipajang beberapa jaket untuk wanita.
”Jakarta panas, masa dikasih jaket?”, tanyanya ragu
”Panas kan diluar. Kalau di kantor kan dingin”, ucapku.
”Dia satu kantor sama kita?”, tanya Edi menyelidik..
”Eh .. enggak. Emangnya cuman kantor kita yang pakai AC”, kilahku karena aku tidak ingin semua orang tahu tentang siapa dan dimana wanita yang kumaksud.

Setelah beberapa saat aku memilih, akhirnya kutemukan juga model jaket yang pantas jika dipakai wanita itu. Ya, pantas menurut perkiraanku saja. Cocok atau tidak, itu urusan nanti.

”I take this”, kataku pada si penjaga,”How much?”
Penjaga itu hanya menatapku.
”How Much?”, aku mengulangi pertanyaanku.
Penjaga itu tampaknya mulai mengerti apa yang aku maksudkan. Dia menunjukkan sebuah papan yang bertuliskan angka.

”Ok. I take this”, kataku seraya menyerahkan jaket itu kepadanya. Si penjaga itu segera menulis nota pembelian dan menyerahkan kepadaku.

”Where is the cashier?”, tanyaku setelah aku tidak menemukan tempat kasir karena semua petunjuk dalam tulisan Cina. Penjaga itu pun hanya bengong. Setelah kuperlihatkan selembar Yuan, baru dia mengerti maksudku. Diantarkannya aku ke tempat kasir yang memang agak tersembunyi.

Kuserahkan nota pembelian dan beberapa lembar uang Yuan baru. Dibolak-baliknya uang itu, diraba dan diterawangnya.

”Edan. Dia pikir aku ini pemalsu uang apa?”, Dongkolku dalam hati. Tapi kubiarkan saja aksinya. Toh itu salah satu bentuk kewaspadaan.
”Thank you, Sir. Good Night”, kata kasir seraya menyerahkan bukti pembayaran dan uang kembalian.
”Good Evening”.

Aku segera kembali menemui si penjaga untuk menyerahkan bukti pembayaran.
”Ok. Thank you”, kataku setelah menerima bungkusan jaket. Penjaga itu hanya mengangguk.

***

Jam 9 waktu Shenzen, aku dan rombongan harus segera berangkat ke Hong Kong untuk kembali ke Jakarta. Perjalanan yang bakal melelahkan sudah terbayang di kelopak mata. Itu masih harus ditambah dengan barang bawaan yang bertambah berat karena barang belanjaan.

Hampir jam 1 siang, aku telah tiba di HongKong.

Bersambung …

Dan Wanita Itu … (11)

”Jika hanya wajah dan tubuh yang jadi ukuran, mungkin tidak seperti ini. Ada sesuatu yang membuat saya jatuh hati padanya. Sesuatu yang selama ini tidak saya temukan pada teman wanita saya. Sesuatu yang baru bagi saya. Dan terus terang, saya jatuh cinta sejak pertama bertemu”, paparku.

”Hmmm … cinta pada pandangan pertama. Jarang orang yang mengalaminya”, sahutnya.
Aku sedikit terkejut karena ternyata orang tua itu tidak menertawakanku. Sebelumnya aku mengira bahwa dia akan mengatakan seperti cerita sinetron saja. Ternyata tidak. Orang tua itu benar-benar seseorang yang memahami betul tentang arti cinta.

”Kamu harus bersyukur karena telah mengalaminya”, lanjutnya

Apanya yang mesti disyukuri? Justru karena cinta pada pandangan pertama itulah yang telah membawaku dalam keadaan serba sulit seperti saat ini. Suatu keadaan yang membuatku berharap akan sesuatu yang sebenarnya sangat sulit untuk diharapkan.

Aku berdiri untuk segera pamit pulang.
”Lain waktu, ajak dia kesini”, ledeknya lagi.
Aku hanya tersenyum mendengarnya.

***

Shenzen – Jakarta

”Daru, bisa kesini sebentar?”, sore itu atasanku tiba-tiba memanggil. Aku segera masuk ke ruangannya. Tidak ada tanda tanya sama sekali di benakku karena biasanya dia memanggilku untuk sekedar tukar pikiran. Memang selama ini aku memang cukup akrab dengannya.

”Yes, Sir?”, sapaku sesaat setelah aku duduk di kursi ruangannya.”
”Kamu mau ikut trainning nggak?”, tanyanya,”Tapi lama, sebulan”.
”Boleh”, jawabku
”Tapi kamu kan sudah mengajukan cuti. Kalau kamu ikut, berarti cutimu diundur”
”Saya belum mengajukan kok. Baru rencana”,
”Emangnya, dimana?”, tanyaku kemudian
”Cina”, katanya singkat.
”Nggak masalah. Setengah tahun juga nggak masalah”, kataku
”Ok kalau gitu. Kamu siapkan paspormu. Besok akan diurus visa-nya. 2 minggu lagi kamu berangkat”, jelasnya.
”Siap, Boss”

Aku segera beranjak dan kembali ke meja kerjaku karena ada beberapa pekerjaan yang masih menumpuk dan harus segera diselesaikan.

***

Tanpa bicara, aku menyerahkan bungkusan yang terlilit rapi dengan kertas kado berwarna biru.
”Apa ini?”, tanya Indri,”Boleh dibuka?”
”Buka aja”, jawabku singkat
Dia pun mulai membukanya.
”Kerudung. Alhamdulillah … terima kasih ya, Mas”,
ucapnya,”Ada dua toh”
Aku hanya mengangguk.

”Siapa yang milihin, Mas?”, tanyanya lagi
”Aku sendiri. Biru .. karena aku suka warna biru. Dan putih, iseng aja sih waktu itu. Asal comot”, lanjutku.
”Kok asal comot sih?”, protesnya
”Tapi bagus kan?”
”Iya sih”.
”Tapi kamu harus memakainya. Karena kalau nggak, aku tidak akan pernah memaafkanmu tujuh turunan”, ancamku
”Ya pasti aku pakai. Tapi sumpahnya kok lama amat. Tujuh turunan”.
”Biarin”.
”Tapi ini dalam rangka apa?”, tanyanya kemudian.
”Kado ulang tahun”, jawabku
”Tapi kan ulang tahunku masih lama. 2 bulan lagi”, dia mengingatkan.
”Iya tau. Tapi nggak apa-apa kan kalo kadonya duluan?”
”Ya nggak apa-apa sih”, jawabnya.
”Kemarin aku ke Mall sama temen. Iseng aja. Tau-tau kepingin saja membelikan kamu kerudung. Wanita kelihatan cantik kalau pakai jilbab”, kataku

Dia tertawa.

”Kenapa tertawa?”, tanyaku heran
”Akhirnya mengakui kalau aku cantik”, sahutnya.
”Lho, saya kan bilang wanita kelihatan cantik kalau pakai jilbab. Kalau kamu mah tetep aja jelek”, kilahku
”Lho … saya kan wanita juga”, protesnya
”Tapi jelek …”, timpalku.
”Bodo”, jawabnya singkat

”Aku mau ke Cina”, kataku kemudian
”Kapan?”, tanyanya
”2 minggu lagi aku berangkat”
”Ngapain kesana?”
”Trainning”, jawabku,”Mau ikut?”
”Maunya sih, tapi it’s too good to be true”, jawabnya
Aku hanya menanggapinya dengan tersenyum.

”Berapa orang yang berangkat, Mas?”
”12 orang”, sahutku
”Berapa lama. Seminggu?”, tanyanya
”Sebulan”
”Lama amat sih. Eh … tapi gak papa, asal nggak lupa oleh-olehnya?”, katanya sambil terkekeh.
”Dasar. Bukannya ngasih uang saku, malah minta oleholeh”, candaku

***

Awan gelap menggelayut di atas Jakarta, bersiap untuk menumpahkan butiran air hujan yang seolah sudah tidak sabar untuk membasahi bumi.
”Tadi kesini naik apa, Mas?”, tanya Indri padaku.
”Taksi. Pulangnya kamu antar ya?”, sahutku
Dia hanya mengangguk.

”Tunggu sebentar ya, Mas?”, katanya
Aku hanya mengangguk pelan.

Sore itu aku memang sengaja menemuinya di tempat kerja, karena esok harinya aku sudah harus bertolak ke Cina.

Tidak sampai 15 menit aku menunggu, dia sudah menemuiku lagi dengan tas kecil ditenteng di tangannya.
”Pulang?”, tanyaku
”Iya. Mas atau Indri yang bawa mobilnya?”, tanyanya
”Kamu aja. Gantian kamu yang nyopir”, sahutku

Tampaknya langit sudah sabar lagi untuk menunggu.
Baru beberapa ratus meter mobil bergerak meninggalkan tempat kerjanya, hujan deras mengguyur Jakarta.
”Besok berangkat jam berapa?”
”Pesawat jam setengah sembilan. Paling dari rumah sekitar jam enam gitu deh”.
”Jangan lupa oleh-olehnya ya?”, pesannya
”Apa sih yang nggak buat kamu?”, candaku
Sementara dia kembali tersenyum. Entah senyum untuk
apa?

”Eh mas. Ngopi yuk?”, ajaknya ketika kami melewati sebuah kafe yang cukup ternama di Jakarta.
”Ayuk”
”Tapi traktir”, rengeknya
”Hayuk aja”

Hujan pun akhirnya reda setelah puas mengguyur bumi ini. Dan sepertinya dia ingin menjadi saksi bahwa malam ini adalah awal dari perpisahanku dengan wanita itu hingga satu bulan ke depan. Mungkin satu bulan adalah waktu yang singkat, namun tidak bagiku. Karena aku harus terpisah ribuak kilometer dari seorang wanita yang sepertinya terlalu istimewa untuk kutinggalkan.

”Selamat tinggal ya. Jangan bandel”, ujarku sesaat setelah kami tiba di depan rumahku.
”Iya. Hati-hati”, sahutnya seraya menyambut uluran tanganku.

Aku hanya mengangguk. Diantara bias cahaya lampu jalan yang menerobos masuk melalui kaca mobil,

kupandangi wajah wanita itu.

”Sudah malam, Mas. Aku harus pulang”, ucapnya membuyarkan tatapanku.
”Hati-hati di jalan”
”Iya. Assalamualaikum”, pamitnya
”Waalaikumsalam”

Mobil berwarna biru tua metalik itu pun mulai meninggalkanku. Seandainya saja ada pilihan, sebenarnya aku ingin melewati malam ini dengan wanita
itu, tapi situasi dan keadaan memang tidak memungkinkan.
Hanya wangi aroma parfum dan bayangannya saja yang tertinggal menemaniku.

Bersambung …

Dan Wanita Itu … (6)

Aku hanya tersenyum mendengar protesnya. Mungkin dia menganggap kalau celotehku tadi hanya berupa gurauan. Tapi sebenarnya aku sendiri sedikit terkejut, karea apa yang baru saja aku ucapkan, keluar begitu saja dari mulutku.

Atau mungkin … perasaan yang selama ini kurasakan adalah rasa sayang pada wanita itu. Rasa yang terlahir dari perkawinan silang antara hati, jiwa dan perasaan.

Kalau memang seperti itu adanya, lalu kenapa bisa secepat ini timbul rasa sayang di hatiku? Walah, itu yang aku sendiri tidak tahu. Atau mungkin juga, perasaan itu timbul karena dialah wanita pertama yang mampu membuatku terpesona pada pandangan pertama. Selain itu, dia juga sosok orang yang enak diajak ngomong, tanpa basa-basi, pintar dan didukung dengan paras dia yang lumayan cantik. Entahlah ….

”Sayang kok nyela mulu”, lanjutnya ”Lho … justru karena sayang itulah aku mencela. Biar seseorang itu tau kejelekkannya dan merubahnya. Kalo aku gak sayang … ngapain aku urusin”, aku mencoba berargumentasi.

”Seperti misalnya, kalau aku bilang kamu jelek itu berarti biar besok kamu mau tampil agak cantikkan dikit”, lanjutku ”Biarin jelek … tapi situ suka kan?”, ledeknya sambil tertawa. Akupun hanya tersenyum dibuatnya. Namun sebenarnya dibalik senyuman itu aku harus mengakui kalau aku memang suka dia.

__________________________________________________

Perjalanan kami malam itu dihiasi dengan saling ejek. Tidak ada satupun obrolan yang tidak diakhiri dengan ejekan.

Justru suasana seperti itu yang memang aku harapkan. Tidak ada rasa segan, tidak ada basa-basi dan saling jaga jarak meskipun aku baru mengenalnya. Setidaknya, suasana malam itu layaknya aku sedang jalan dengan seorang sahabat lama. Seorang sahabat yang bisa mengerti, bisa berbagi dan bisa saling mengisi.

***

Setelah makan di sebuah warung steak lokal di daerah Bekasi, aku bermaksud mengantarkannya pulang. Selain waktu sudah menjelang jam 10 malam, aku juga bukan tipe lelaki yang tidak bertanggung jawab. Aku yang mengajak dia, berarti aku pula yang harus mengantarnya.

”Mas, aku turun di depan aja ya”, ucapnya setelah mobilku melewati gerbang sebuah perumahan. ”Emang dekat dari situ?”, tanyaku ”Enggak. Nanti aku ngojek saja”, jawabnya

”HAH ???? Nggak bisa. Sudah bukan jamannya lagi seorang laki-laki menurunkan wanita di tengah jalan”, tolakku. ”Kan bukan mas Daru yang menurunkanku di tengah jalan, tapi aku yang minta sendiri”, kilahnya

”Gak bisa. Emang kenapa kalau aku anterin sampai ke rumah? Malu?”, tanyaku mengejar alasannya. ”Iya .. aku kan malu-maluin. Eh enggak ding. Sudahlah mas, aku ngojek saja”, dia ngotot.

Aku hanya memandanginya dengan penuh tanda tanya tentang alasan dia mengapa tidak mau aku antar sampai depan pintu rumahnya.

”Kenapa sih?”, tanyaku pelan ”Nggak papa”, jawabnya ”Tapi aku nggak mau menurunkanmu di jalan. Karena aku sayang kamu!”

Glek! Kerongkonganku terasa kering. Kenapa kalimat itu meluncur lagi dari mulutku? Apakah sebenarnya aku memang benar-benar sayang pada wanita yang sedang duduk di sampingku?

”Sudahlah mas. Let it be my secret. Ok?”, jawabnya sok bule.

Aku hanya terdiam. Sementara gerimis mulai turun seolah ingin menjadi saksi tentang awal kisah suatu cerita yang akan kami perankan.

”Gerimis lho”, ujarku singkat ”Nggak papa. Deket kok”, jawabnya ngotot ”Ya sudah. Kali ini aku penuhi permintaanmu. Lain kali aku harus anterin kamu sampai depan rumah. Atau kita nggak jalan sama sekali”, kataku sedikit emosi. Dia hanya terdiam.

”Mas, terima kasih ya. Hati-hati di jalan. Assalamualaikum”, ujarnya ”Sama-sama. Waalaikumsalam”, jawabku.

Aku hanya memperhatikan dari dalam mobil sementara dia memanggil seorang tukang ojek yang sedang

mangkal tak jauh dari tempatku berhenti.

Dan gerimis pun mulai berubah menjadi hujan, ketika bayangan tukang ojek dan wanita itu mulai menjauh dan akhirnya sudah tidak lagi tampak dalam kegelapan malam.

Aku segera menjalankan mobilku. Sepanjang perjalanan pulang ke Jakarta, aku terus memikirkan wanita itu, termasuk juga alasan tidak masuk akal yang telah disampaikannya kepadaku.

Kenapa aku terlalu memikirkannya? Apakah aku memang sayang pada wanita itu atau sebenarnya aku telah jatuh cinta?

Mungkin pertanyaan terakhir itulah yang sebenarnya telah membuatku gelisah dan selalu terngiang jawaban terakhir dia ”Let it be my secret”.

”Damn, what is your secret?”, aku semakin bertanya- tanya dalam hati. Apa sebenarnya yang sedang terjadi sehingga harus ditutup-tutupi?

***

Mungkin perasaan sayangku selama ini, telah membuat gerah perasaan yang lain. Satu perasaan yang sebelumnya hanya terdiam tanpa mau ikut campur, menyeruak ke permukaan dan memperlihatkan keangkuhannya.

Cinta … ya, ternyata aku telah jatuh cinta. Itulah perasaan yang tidak pernah rela dan tidak bisa hanya berpangku tangan ketika rasa sayang dikedepankan.

Aku sebenarnya adalah tipe orang yang susah untuk jatuh cinta, namun ketika cinta itu datang maka tak ada pilihan lain selain menerimanya, meskipun akhirnya akan sulit bagiku untuk melupakannya.

Tapi aku juga bukanlah tipe lelaki penganut cinta buta. Cinta yang hanya mempedulikan perasaan suka tanpa peduli tentang siapa sebenarnya yang dicinta.

”Aku tidak akan berpikir 2 kali untuk mencintai seseorang, tapi aku akan berpikir 1000 kali untuk mengatakannya”

Aku harus tahu secara pasti, siapa orang yang kucinta. Dan bukan berarti aku bermaksud memata-matai kehidupan seseorang jika aku mencari tahu siapa dia sebenarnya. Aku hanya ingin kejelasan … itu saja.

Sebenarnya aku berniat untuk bertanya langsung dan meminta wanita itu menceritakan segala hal tentang dirinya. Tapi jawaban tempo hari membuatku mengurungkan niat itu.

Jawaban ”Let it be my secret” yang pernah kuterima, jelas-jelas menyatakan bahwa ada sesuatu yang dia tidak ingin aku mengetahuinya. Dan satu-satunya cara untuk mengungkap ”rahasia” itu adalah melalui orang-orang terdekat disekelilingnya.

Lalu siapa orangnya yang bisa membantuku? Sementara tak satupun dari saudara atau kerabatnya yang aku kenal. Dan juga, belum genap satu bulan aku mengenal wanita itu.

***

Mungkin tak salah jika ada pepatah mengatakan ”Dimana ada kemauan, disitu pasti ada jalan”. Karena tiba-tiba aku teringat akan seorang teman satu sekolah dulu, yang kebetulan tinggal di kota yang sama dengan asal wanita itu.

”Tong, loe tau nomor telponnya Hari?”, tanyaku pada teman kost-ku. ”Hari yang di Bandung?”, dia balik bertanya ”Iya”, jawabku

”Emang ada apaan?”, dia bertanya lagi ”Ada urusan mendadak nih” ”Bentar”, katanya seraya mencari-cari di phone book- nya. ”08 …….”, dia menyebutkan sederet nomor,”Tapi itu kalau belum ganti ya”. ”Ok. Thanks … gue mau nelpon dia dulu”, kataku sambil ngeloyor pergi agak menjauh.

”Har, dimana loe?”, tanyaku ketika temanku mengangkat telponnya. ”Siapa nih?”, jawab orang di seberang ”Daru”, jawabku

”Weiii … ada apaan. Tumben telpon”, katanya

”Gini, gue gak bisa ngomong lama-lama nih, Har. Soalnya gue males kalau nelpon cowok lama-lama”, gurauku. ”Gila loe. Ada apaan emang?”

”Gini Har, gue minta tolong loe. Tolong loe cari tau informasi tentang seorang cewek”, lanjutku ”Hah … gimana caranya?”, tanyanya bingung. ”Gampang. Bokapnya punya toko disamping terminal. Loe besok kesana, pura-pura sebagai teman lama dan tanyakan tentang dia. Namanya Indri”, jelasku.

”Tanya apaan?” ”Waduh … ya apa aja, dodol! Tanya dia sekarang kerja dimana, dan apa aja deh. Pokoknya kondisikan loe sok kenal aja. Kalau perlu tanya dia sudah nikah apa belum?”

Glekk … kalimat terakhir itu spontan keluar dari mulutku tanpa aku rencanakan sebelumnya. Mungkin firasatku yang mendadak mengontrol mulutku untuk memitanya menanyakan hal itu.

”Emang kenapa? Gebetan loe?”, tanya dia lagi ”Udahlah … yang jelas besok malam gue telpon lagi dan loe udah harus dapet infonya. Ok?” ”Emang ada apa sih? Ngebet banget kayaknya?” ”Ini bukan masalah ngebet atau nggak. Tapi gue sekarang mencari calon istri, bukan pacar. Jadi gue gak mau tanggung-tanggung”, jelasku ”Kenapa loe nggak tanya langsung aja sama dia?” ”Gak bisa. Karena ada sesuatu yang gue rasa agak aneh. Sudahlah, gue gak bisa menceritakan lebih banyak lagi. Yang jelas, cari informasi sebanyak-banyaknya”, pintaku.

 

bersambung …