Menuju Kursi DKI 1

Ridwan Kamil, Ganjar Pranowo dan Ahok bisa jadi bakal berebut kursi DKI 1. Sah-sah aja, karena dalam demokrasi itu adalah hak setiap individu untuk memilih dan dipilih, mencalonkan dan dicalonkan.

Tapi menurut saya pribadi, bangsa ini masih kurang pemimpin yang cukup bagus (jika tidak boleh dikatakan bagus). Jadi sebaiknya, mereka bertiga tetap berada di “daerah kekuasaannya” masing-masing saat ini, untuk melanjutkan program-program pembangunan yang sudah dicanangkan. Kecuali Ridwan Kamil, bolehlah “naik pangkat” jadi JABAR 1.

Dan kalaupun akhirnya mereka bertiga bertarung di DKI, ya gak apa-apa juga. Gak ada dosanya kok. Hanya saja bisa dipastikan, bakal ada 2 calon gubernur yang bakalan “nganggur” karena hanya ada 1 gubernur di DKI.

Seperti di awal coretan, kita ini masih kekurangan stock pemimpin yang cukup bagus. Dan seandainya saya berkuasa untuk menentukan, saya pasti akan menyebar mereka, supaya semua daerah memiliki pemimpin yang hebat (bukan penguasa) … dan bukan malah mengadunya dalam 1 tempat.

Tapi sekali lagi, sah-sah saja mengadu mereka di DKI 1. Karena inilah yang dinamakan dengan demokrasi.

Yang penting Nyaleg!!!

pemilu 2014

Menjelang Pemilu, setiap partai berlomba-lomba mendapatkan suara banyak untuk mendapatkan jatah kursi dewan yang terhormat. Salah satunya adalah dengan menempatkan sosok-sosok terkenal dari kalangan artis untuk mendulang suara masa. Tidak peduli orang tersebut mempunyai kapabilitas, kemampuan dan integritas atau tidak, selama dikenal banyak orang maka majulah dia jadi caleg. Yang penting NYALEG !!!

Padahal terkenalnya seseorang itu kan bisa disebabkan banyak hal. Ada yang karena hal positif dan banyak juga yang negatif. Jadi predikat “orang terkenal” sepertinya sangat jauh dari kata layak untuk maju menjadi calon anggota legislatif yang notabene nantinya akan mengemban jabatan prestisius sebagai WAKIL RAKYAT.

Jika sebuah partai mengusung seseorang menjadi CALEG atau bahkan menjadi CAPRES hanya karena alasan dikenal masyarakat luas tanpa melihat lebih jauh lagi ke belakang (prestasi, kemampuan, pendidikan, pengalaman, integritas, kepribadian dll), sudah keliatan jelas (menurut saya pribadi) bahwa partai tersebut hanya mengejar KEKUASAAN.

Padahal, saat ini … Indonesia sangat memerlukan para pemimpin yang berkuasa, bukan penguasa yang memimpin. Dan pemimpin yang berkuasa, tentunya diharapkan berasal dari orang-orang yang memang layak untuk menjadi pemimpin. Tidak bisa dipungkiri bahwa beberapa caleg sudah sangat kelihatan ketidak mampuannya. Bahkan dari beberapa talkshow di televisi, beberapa caleg menjawab pertanyaan dari host-nya dengan sangat “berantakan” dan terksesan tidak memahami betul apa sebenarnya tujuan mereka maju untuk bertarung di pemilihan legislatif. Tentunya, bukan orang-orang seperti itu yang kita harapkan!

Memang sah-sah saja partai politik melakukan strategi seperti itu untuk menarik massa, tidak ada masalah. Justru para pemilihlah yang dituntut untuk memilih dengan cerdas siapa yang akan jadi wakilnya kelak. Karena salah memilih, berarti 5 tahun ke depan nasib rakyat pula yang dipertaruhkan.

Indonesia … mari bertindak cerdas dan cermat dalam menentukan pilihan di Pemilu 2014 nanti! Ayo Indonesia, saatnya kita menjadi bangsa yang cerdas!!!!

Terampasnya Hak Pejalan Kaki di Ibukota

Jakarta oh Jakarta … kota yang penuh raga. Sosial, ekononomi, budaya, kemacetan, banjir, panas dan segala macam hal tumplek blek di kota metropolitan ini. Belum lagi ego dari masyarakat yang bisa dibilang “sak karepe dhewe & saling serobot”.

Di Jakarta ini, banyak sekali trotoar yang beralih fungsi. Yang seharusnya untuk pejalan kaki, menjadi tempat jualan dan bahkan parkiran. Hak pejalan kaki sudah diserobot dan dirampas. Beralihnya fungsi trotoar, selain melanggar peraturan dan ketentuan juga menyisakan satu ancaman. Ancaman terhadap keselamatan dari pejalan kaki. Ketika para pejalan kaki tidak mendapatkan jalur yang sebenarnya, mereka terpaksa harus turun ke badan jalan.

Disinilah ancaman keselamatan berawal. Manusia pejalan kaki harus berbagi tempat dengan kendaraan yang melintas. Ruang yang sempit menyebabkan peluang terjadinya benturan menjadi sangat besar. Dan ketika terjadi benturan, siapa korbannya? Tentunya adalah si pejalan kaki.

Kembalikan Hak Pejalan Kaki

Marilah kita semua melepaskan ego masing-masing, tetap berada pada tempat yang seharusnya, tidak saling serobot dan merampas hak-hak orang lain.