Indonesia Advertising Revenue

Post-media-market-chart-1sumber: http://redwing-asia.com/

Pembelanjaan iklan di Indonesia terus mengalami pertumbuhan. Pada tahun 2012 tercatat sekitar USD 7.6 bn. Dan di tahun 2015 sudah mencapai USD 12.9 bn dan diperkirakan pada tahun 2016 ini akan menembus angka USD 15 bn. Angka yang fantastis.

Ada yang menarik dari grafik diatas, yaitu ternyata TV masih mendominasi pembelanjaan iklan dengan hampir 70%, sementara digital yang hanya mendapatkan porsi sekitar 5% saja. Meskipun pertumbuhan iklan di digital juga berkembang dengan cukup pesat.

Hal ini wajar saja, karena TV masih belum terkalahkan dari urusan REACH atau jumlah audience yang bisa disasar. Sementara digital atau internet, tidak bisa dipungkiri masih “kecil” karena perkembangan internet di Indonesia juga masih belum merata atau berlum tersedia di seluruh pelosok tanah air. Beda dengan TV.

Namun para pemain digital tidak perlu berkecil hati. Semua hanya tinggal menunggu waktu, untuk terjadi perubahan dari pemasangan iklan konvensional ke iklan digital. Strategi pemasaran pun akan terus berubah seiring dengan perkembangan teknologi dan juga kesiapan pasar/masyarakat untuk mengadopsi internet sebagai bagian dari gaya hidup.

So … let’s do digital!

 

Digital Spending Growth in Indonesia 2011-2016

indonesia-ad-spend-2011-2016

 

sumber: http://www.incitez.com/markets/indonesia/digital-spend-growth-in-indonesia-2011-2016

Melihat grafik diatas, pertumbuhan atau peningkatan belanja iklan digital di Indonesia mengalami kenaikan yang sangat pesat. Dari USD 0,09 bn menjadi USD 1,16 bn hanya dalam rentang waktu 5 tahun. Mencengangkan!

Tetapi apakah semua uang belanja iklan digital itu “tetap tinggal” di Indonesia? Jawabnya adalah tentuk tidak. Mengapa?

(Mungkin) sudah menjadi rahasia umum bahwa Ad Platform yang ada itu adalah aset perusahaan asing. Sebut saja Ad Platform yang Anda kenal, GDN (Google Distribution Network), Google Adwords, Facebook Ads, Twitter Ads, dan Ad networks yang lain seperti Millenia, VSERV, dll. Hampir semua bentuk placement atau pemasangan iklan digital menggunakan platform asing, sehingga artinya adalah uang belanja iklan digital melayang ke luar negeri.

Hal ini tidak bisa dihindari karena memang pada kenyataannya adalah ad platform made ini Indonesia itu sangat … sangat … sangat sedikit. Dan pedihnya lagi, kurang populer. Plus didukung fakta bahwa hampir semua media online yang ada di Indonesia menjadi publisher atau penampil iklan dari ad platform-ad platform tersebut.

Ini juga tidak ada yang salah. Karena bisnis adalah bisnis … tidak peduli platform-nya dari mana, yang penting revenue tetap mengalir

Tapi diluar itu semua, yang paling penting adalah sudah saatnya para pemain lokal mulai bergerak untuk merebut sebagian dari uang belanja iklan tersebut. Semua pihak harus saling membantu, mulai dari platform developer, publisher, dan juga pemerintah.

Let’s go Digital!