Merah Putih … Dulu dan Sekarang

Mbah Cantrik, seorang veteran 45 ngobrol-ngobrol santai sama cucunya.

“Kok bendera merah putihnya belum dipasang? Sebentar lagi kan peringatan hari kemerdekaan bangsa kita”, kata mbah Cantrik kepada si Gendon, cucu-nya yang paling di sayanginya.

“Besok-besok aja lah, mbah. Belum ada tiangnya. Susah nyarinya”, jawab Gendon

“Lha wong cuman nyari tiang aja lho kok susah. Lebih susah dulu, waktu kakek ikut perang kemerdekaan. Mau ngibarin bendera saja, taruhannya nyawa”, timpal mbah Cantrik sambil mengisap rokok kreteknya

“Lagian negara kita ini juga belum bener-bener merdeka kok, mbah. Korupsi banyak, sekolah mahal, apa-apa mahal. Apanya yang perlu diperingati”, balas Gendon

“Ya kamu gak usah mikir yang jauh-jauh begitu. Anggap saja, dengan mengibarkan bendera merah putih, kamu menghargai simbah. Juga menghargai teman-teman simbah yang sudah berjuang untuk bangsa ini. Teman-teman simbah yang mati banyak. Jadi anggap saja kamu mengenang dan menghargai pengorbanan mereka”, kata mbah Cantrik serius, dan terlihat ada titik air diujung matanya

“Nggih, mbah. Besok pagi pasti saya pasang”, jawab si Gendon lirih.

Kata Mereka Tentang Hidup & Kehidupan (1)

Suatu ketika Harjuna sedang berada di Jogja. Karena Harjuna datang dari kota metropolitan, dia memilih becak untuk sekedar berputar-putar di sekitar Malioboro dan alun-alun.

Karena ada yang harus dibeli, Harjuna meminta Pak Cantrik, si tukang becak untuk berhenti di depan sebuah Mall.

“Pak, sebentar ya. Ini bawa dulu”, kata Harjuna ke pak Cantrik seraya menyerahkan selembar uang 50.000

“Nggak usah, mas. Dibayar nanti saja”, balas pak Cantrik

“Loh, kalau saya gak balik gimana? Bapak gak dapat bayaran dong”, ujar Harjuna sedikit bercanda

“Ya berarti belum rejeki saya, mas”, ucap pak Cantrik santai

Jleb!!!! Harjuna terdiam dan langsung masuk ke Mall

20 menit kemudian, Harjuna keluar dari mall dan ternyata pak Cantrik masih setia menunggunya.

“Terima kasih lho pak, masih menunggu”

“Sama-sama, mas. Kan tadi saya udah janji mau nungguin. Janji itu hutang, mas. Saya takut punya hutang. Soalnya janji atau hutang itu urusannya gak cuman sama manusia, tapi juga sama Gusti Allah”.

Jleb!!! Lagi

“Pak, kita ngopi dulu lah. Dari tadi belum ngopi”, pinta Harjuna

Pak Cantrik mengayuh becaknya mengarah ke alun-alun. Disana mereka akhirnya ngopi di warung lesehan yang banyak terdapat di sekitar alun-alun.

“Pak, kalau tadi misalnya saya ini brengsek dan benar-benar gak balik ke becak bapak. Gimana dong?”, tanya Harjuna membuka percakapan

“Ya itu tadi mas. Berarti belum rejeki saya”, jawab pak Cantrik

“Tapi gak bisa gitu juga pak. Orang kan beda-beda. Ada yang bisa dipegang omongannya, ada yang gak bisa juga”, ujar Harjuna

“Yang saya pegang cuman omongan Gusti Allah, mas”, tukas pak Cantrik lagi,”Berbuatlah baik dan iklhas karena Allah, niscaya Allah akan menggantinya dengan kebaikan-kebaikan yang lain”

“Maaf lho pak. Bapak nyari rejekinya kan dari becak. Lha kalo udah ngayuh capek-capek dan ternyata gak diberi ongkos, itu kan namanya ditipu”, sergah Harjuna

“Ya mungkin belum rejeki saya,” jawab pak Cantrik mengulangi pernyataannya tadi.

“Selain itu, saya ikhlaskan sebagai sedekah saya. Mungkin orang yang nipu saya, hidupnya lebih susah dari saya. Saya ini kan orang miskin, kalau sedekah uang mungkin saya gak sanggup. Ya sedekahnya dengan cara lain saja”, sambung pak Cantrik

Jleb! Jleb! Jleb!

Harjuna terdiam.

“Ada ya orang kayak begini. Begitu ikhlasnya dia menjalani hidup dan menghadapi kehidupan dengan selalu mengembalikannya kepada Tuhan”, Harjuna bicara dalam hati

Obrolan mereka pun berlanjut hingga tengah malam sebelum akhirnya Harjuna diantarkan Pak Cantrik kembali ke Hotel.