Menuju Kursi DKI 1

Ridwan Kamil, Ganjar Pranowo dan Ahok bisa jadi bakal berebut kursi DKI 1. Sah-sah aja, karena dalam demokrasi itu adalah hak setiap individu untuk memilih dan dipilih, mencalonkan dan dicalonkan.

Tapi menurut saya pribadi, bangsa ini masih kurang pemimpin yang cukup bagus (jika tidak boleh dikatakan bagus). Jadi sebaiknya, mereka bertiga tetap berada di “daerah kekuasaannya” masing-masing saat ini, untuk melanjutkan program-program pembangunan yang sudah dicanangkan. Kecuali Ridwan Kamil, bolehlah “naik pangkat” jadi JABAR 1.

Dan kalaupun akhirnya mereka bertiga bertarung di DKI, ya gak apa-apa juga. Gak ada dosanya kok. Hanya saja bisa dipastikan, bakal ada 2 calon gubernur yang bakalan “nganggur” karena hanya ada 1 gubernur di DKI.

Seperti di awal coretan, kita ini masih kekurangan stock pemimpin yang cukup bagus. Dan seandainya saya berkuasa untuk menentukan, saya pasti akan menyebar mereka, supaya semua daerah memiliki pemimpin yang hebat (bukan penguasa) … dan bukan malah mengadunya dalam 1 tempat.

Tapi sekali lagi, sah-sah saja mengadu mereka di DKI 1. Karena inilah yang dinamakan dengan demokrasi.

Alotnya Kantong Plastik Berbayar

Kantong plastik oh kantong plastik

Cerita kantong plastik berbayar sepertinya alot, sama alotnya sama plastiknya sendiri yang butuh waktu puluhan hingga ratusan tahun untuk terurai. Ada pro dan ada yang kontra … wajar aja sih. Apalagi kita ini terbiasa dikasih gratis, tiba-tiba harus bayar.

Ada yang bilang itu bentuk kedzaliman pemerintah, ada yang bilang itu gak fair … karena harusnya produsen plastik atau produk yang memakai kemasan dari plastiklah yang harusnya menanggung. Ada yang bilang ini, ada yang bilang gitu.

Kalau saya pribadi sih setuju-setuju saja. Toh tidak ada paksaan kalau saya harus beli kantong plastiknya? Saya kan tinggal bawa kantong sendiri dari rumah. Lumayan kan Rp 200 bisa disimpan atau dimasukkan ke kotak amal masjid, daripada harus buang duit demi selembar kantong plastik.

Kalo setiap belanja selalu dapat kantong plastik, pasti numpuk lah dirumah. Buat apa coba? Dikoleksi??? Ujung-ujungnya ya dibuang ke tempat sampah.

Memang, program pemerintah itu tidak serta merta menghilangkan peran plastik dari kehidupan manusia. Karena memang itu mustahil. Program itu hanya untuk mengurangi pemakaian plastik yang tidak perlu atau sebenarnya bisa dihindari. Salah satunya ya kantong plastik belanja itu.

Bumi kita ini sudah penuh sesak dengan sampah plastik. Nah … jika kita bijak dengan mengikuti program itu, pastinya sedikit banyak akan turut membantu meringankan beban bumi untuk mengurai plastik.

Jika setiap hari di Indonesia ada 1 juta transaksi dan semuanya dapat kantong plastik, maka akan ada 1 juta sampah plastik baru. Sebulan ada 30 juta, setahun ada 365 juta, 2 tahun? 3 tahun? 5 tahun dan seterusnya …. mari hitung berapa banyak?

So … mari lebih bijak menggunakan plastik. Bukan untuk pemerintah, tapi untuk kita sendiri. Sudah hemat, plus menjaga bumi dari pencemaran berkelanjutan.

Gitu aja kok repot mesti berdebat!

Indonesia Advertising Revenue

Post-media-market-chart-1sumber: http://redwing-asia.com/

Pembelanjaan iklan di Indonesia terus mengalami pertumbuhan. Pada tahun 2012 tercatat sekitar USD 7.6 bn. Dan di tahun 2015 sudah mencapai USD 12.9 bn dan diperkirakan pada tahun 2016 ini akan menembus angka USD 15 bn. Angka yang fantastis.

Ada yang menarik dari grafik diatas, yaitu ternyata TV masih mendominasi pembelanjaan iklan dengan hampir 70%, sementara digital yang hanya mendapatkan porsi sekitar 5% saja. Meskipun pertumbuhan iklan di digital juga berkembang dengan cukup pesat.

Hal ini wajar saja, karena TV masih belum terkalahkan dari urusan REACH atau jumlah audience yang bisa disasar. Sementara digital atau internet, tidak bisa dipungkiri masih “kecil” karena perkembangan internet di Indonesia juga masih belum merata atau berlum tersedia di seluruh pelosok tanah air. Beda dengan TV.

Namun para pemain digital tidak perlu berkecil hati. Semua hanya tinggal menunggu waktu, untuk terjadi perubahan dari pemasangan iklan konvensional ke iklan digital. Strategi pemasaran pun akan terus berubah seiring dengan perkembangan teknologi dan juga kesiapan pasar/masyarakat untuk mengadopsi internet sebagai bagian dari gaya hidup.

So … let’s do digital!