Tips Membersihkan Peralatan Berlapis Stainless Steel

kran-air

 

Peralatan rumah tangga, meskipun berlapis/berbahan stainless bukan berarti bebas dari perawatan. Misalnya saja kran air yang ada di rumah. Lama kelamaan akan terlihat kusam karena tertutup oleh noda atau kotoran. Apalagi misalnya Anda di rumah menggunakan kran air yang harganya cukup mahal tetapi terlihat kusam. Sayang sekali bukan?

Nah … untuk mengatasi hal tersebut, Anda bisa memanfaatkan material yang juga sudah pasti ada di rumah. Yaitu Pasta Gigi!

Caranya pun sangat mudah, hampir tidak perlu keluar keringat untuk itu :)

  • Basahi kran yang hendak dibersihkan
  • Oleskan pasta gigi secara tipis dan merata ke semua permukaan kran
  • Gosok/sikat dengan lembut menggunakan spon atau pasta gigi bekas
  • Bersihkan dengan air
  • Keringkan
  • Ulangi dari awal jika masih ada kotoran/noda yang menempel. Untuk noda yang sangat membandel, biarkan beberapa menit pasta giginya sebelum disikat.

Clingggg!!!! Kran/peralatan lain yang berlapis/berbahan stainless/krom akan kembali kinclong seperti sedia kala. 98% seperti baru :)

Selamat mencoba dan semoga bermanfaat!

Air Dari Tandon Gagal Mengalir

air-pdam-mampet

Kejadian ini terjadi 3 hari yang lalu, dimana tiba-tiba tidak setetes air pun keluar dari kran. Padahal beberapa detik sebelumnya lancar jaya. Cek ke semua kran yang ada, dan hasilnya sama. Tidak ada air sama sekali! Errgghhhh …. kesel dan bingung, karena kejadiannya mendadak daaaaannnnnnnn waktu menunjukkan sekitar pukul 2 dini hari :(

Akhirnya, dengan terpaksa saya naik ke menara air/tandon untuk ngecek. Dan betul dugaan saya, ternyata air dalam tandon habis. Water level meter (radar) saya sepertinya gagal bekerja sehingga tidak mengaktifkan jet pump. Malam itu juga saya bongkar radarnya dan ternyata ada karat yang menyebabkan dia gagal bekerja. Setelah karat di semprot dengan cairan pembersih karat …. radar berfungsi normal. Pompa bekerja lagi dan mengisi tandon dengan air. Yessss!!!!!

Kembali turun dan berniat cuci tangan. Whattttttt ?????? Air tetap tidak mengalir, yang ada hanya suara angin yang keluar dari ujung kran. Suara anginnya seperti (maaf) suara kentut … pret pret pret. Waduh, PR belum selesai rupanya. Saluran air saya masuk angin!!!!!

Semua kran di dalam rumah sudah dibuka dan pompa dorong diaktifkan, tapi tidak ada tanda-tanda air keluar. Hmmmm …. lelah!

Setelah beberapa saat terdiam, akhirnya saya teringat bahwa ada satu kran yang belum terbuka. Kran paling ujung yang ada di car port! Bereskah? Belum juga rupanya, padahal semua kran sudah dibuka. Weladalaaaahh. Terdiam lagi …

Akhirnya ketemua ide (jujur, saya nggak tahu ini pakai rumus fisika yang mana … cuman tiba-tiba terlintas di pikiran saja), hanya ada 2 kran yang saya buka dan selebihnya ditutup. Yaitu 1 kran yang paling dekat dengan tandon dan 1 kran paling ujung yang ada di carport. Daaaaannn ….. jreng jreng, air mulai mengalir meskipun kecil. Tapi yang pasti ini menuju ke arah yang sudah benar. Untuk mempercepat proses pengeluaran angin, saya pun mengaktifkan pompa dorong. Dan bret bret bret bret … suara angin keluar dari ujung kran. Akhirnya, aliran air kembali normal!!!!

Demikian kisah malam saya yang cukup menyedihkan, semoga bermanfaat :)

Jualan di Social Media, Salah Nggak Sih?

Jika dicermati, makin banyak pelaku usaha yang “goes to online” alias menjual barang dagangannya di internet. Mulai di facebook, instagram, twitter, forum hingga mempunyai toko online sendiri. Sebut saja tokoapaini.com :)

Sangat menggembirakan melihat fenomena itu, karena ini bukan hanya masalah ikut-ikutan atau latahisme. Tapi karena memang trend-nya adalah ke arah digital. Di Indonesia sendiri, sekarang ada lebih dari 70% juta pengguna internet atau sekitar 25% dari jumlah penduduk Indonesia. Dan angka ini pun terus meningkat. Dan ini artinya adalah terdapat demand/target market yang cukup luas yang mesti dibidik di internet. Daaaannn …. beberapa pelaku usaha sudah melakukannya. Salut!!!! Meskipun masih kecil sih prosentase-nya, karena dari sekitar 55,2 juta UKM yang ada di Indonesia baru kurang dari 10% yang memanfaatkan internet sebagai lahan usaha.

Para pelaku usaha di internet pun, cenderung masih menggunakan social media sebagai tempat berjualan. Salahkah? Jawabannya sih untuk saat ini tidak. Tapi nanti, suatu saat ini, pemilihan social media sebagai tempat berjualan adalah pilihan kurang tepat.

Kenapa?¬†Begini ….

  • Jangan lupakan bahwa social media itu adalah platform milik orang lain, yang kita tidak bisa bebas melakukan apa saja. Untuk bisa “berbuat apa saja”, perlunya seorang pelaku usaha untuk memiliki media sendiri (owned media) berupa toko online.
  • Tidak ada jaminan bahwa sebuah social media akan terus populer dan terus digunakan oleh penggunanya. Para pengguna social media itu sifatnya dinamis, terus bergerak mencari platform social media yang lebih menarik, lebih bagus dan lebih sesuai dengan kebutuhan penggunanya. Misalnya: hari ini aktif di FB, bulan depan pindah ke twitter, bulan depannya lagi pindah ke instagram, path atau yang lainnya. Masih ingat dengan friendster.com? Sekarang apa kabarnya? its totally gone!
  • Ketika sebuah social media sudah tidak lagi populer, sementara toko kita ada disitu maka sudah bisa dipastikan nasib usaha kita disitu juga suram atau bahkan collapse. Ketika pengguna sebuah social media mulai meninggalkannya, itu artinya bahwa demand/target market Anda juga meninggalkan toko Anda. Memang bisa saja memindahkan “lapak” ke social media lain yang lagi populer. Tapi itu artinya Anda harus memulai dari 0. Anda harus membangun lagi reputasi di tempat baru, mencari follower/fans baru. Dan itu butuh waktu … padahal dalam bisnis, waktu adalah uang!

 

Terus solusinya apa? Solusinya ya bikin toko sendiri!
Tapi kan mahal, tapi kan saya gak ngerti caranya, tapi kan …., tapi kan ….

Memang pertanyaan-pertanyaan itu akan muncul, tetapi sekarang ini apa sih yang susah? Semuanya ada di internet, bahkan tak sedikit yang gratis.

Yang perlu digaris bawahi disini adalah bahwa toko online yang dimaksud bukan berarti harus yang super canggih, pembayaran pakai credit card, fitur nya ini itu. Bukan! Toko online yang saya maksud disini adalah sebuah website untuk memajang barang dagangan Anda. Dan website yang digunakan pun banyak pilihan, bisa yang berbayar atau gratisan (yang berbayar pun sudah banyak pilihan harga), bisa menggunakan e-commerce platform (website yang memang di desain untuk toko online), atau bahkan menggunakan blog sederhana. Lebih bagus lagi jika toko online Anda memiliki nama domain sendiri, misalnya tokoapaini.com. Hal ini supaya lebih mudah diingat orang dan juga sedikit banyak turut membantu pencitraan dari toko online Anda.

Intinya: apapun judulnya, itu adalah media milik Anda sendiri. Dengan begitu Anda lebih leluasa mengatur toko online Anda, tidak perlu lagi kuatir dengan pergerakan pengguna social media yang sangat dinamis. Dan juga, ada potensi untuk mendapatkan penghasilan tambahan dari situ. Caranya? Ketika website Anda populer dan banyak pengunjung, Anda bisa menjadi publisher iklan. Dari situlah penghasilan tambahan Anda berasal.

Lalu jika sudah memiliki toko online sendiri, apakah social media tidak lagi perlu? MASIH PERLU.

  • Jangan lupa bahwa target market toko online Anda adalah pengguna internet. Dan 92% pengguna internet di Indonesia itu aktif di social media. Ya artinya, disitulah target Anda berada.
  • Tetapi social Media hanyalah sebagai alat/media pendukung untuk melakukan promosi. Anda tetap harus memelihara akun social media Anda sebagai media promosi yang mendatangkan pengunjung/drive traffic ke website Anda. Semakin besar traffic = semakin besar peluang untuk menghasilkan transaksi.

Demikian coretan saya, semoga bermanfaat bagi para pelaku usaha yang masih menjatuhkan pilihan untuk hanya berjualan di social media. Bukankah lebih baik memiliki rumah sendiri daripada nebeng atau ngontrak? :)

* image courtesy of http://www.buatwebsitegratis.com