Teror Bom Bunuh Diri

Lagi-lagi bom meledak dan menyisakan kepedihan di negeri ini. Setelah beberapa waktu yang lalu serangan bom bunuh diri dilakukan di masjid Mapolres Cirebon, hari ini “giliran” Gereja Bethel Indonesia Sepenuh (GBIS), Kepunton, Solo, Jawa Tengah yang jadi sasaran.

Seperti biasa, tatapan mata tajam penuh tuduhan diarahkan ke kelompok Islam tertentu. Apalagi bom bunuh diri yang sekarang terjadi di gereja.

Tapi saya berpendapat lain. Bukan karena saya juga Islam, tapi saya mencoba untuk berpikir realistis.

1. Yang saya tahu, bunuh diri dengan cara apapun itu di HARAM-kan oleh Islam.

2. Bagaimana mungkin, seorang yang mengaku Islam yang sangat taat malah merusak dan membunuh di tempat ibadahnya sendiri seperti yang terjadi di Mapolres Cirebon.

Dari kedua logika sederhana diatas, saya yakin seyakin-yakinnya bahwa para pelaku bom bunuh diri atau terorisme lainnya adalah BUKAN dari kelompok Islam atau agama manapun, melainkan bahwa mereka adalah KELOMPOK orang sakit jiwa dan tidak punya cita-cita.

Dan Wanita Itu … (5)

Ternyata …

Siring bergulirnya waktu dan hembusan nafas, hubunganku dan dia semakin erat. Dan semakin sering aku berhubungan dengan wanita itu, semakin kupahami memang ada sesuatu yang menarik dalam dirinya yang betul-betul tidak bisa aku pungkiri.
aku jelaskan. Karena seperti yang aku bilang, sesuatu itu hanya bisa dirasakan dan tidak bisa dilihat. Jangankan untuk dijelaskan, untuk disebut namanya saja … susah.
Yang jelas, sesuatu itu hanya bisa diterjemahkan oleh hati dan hanya bisa dinikmati oleh jiwa dan pikiranku.
Sungguh, baru sekali ini aku tertarik pada seorang wanita bukan karena parasnya semata. Tapi lebih karena sesuatu yang tercermin dari dalam dirinya. Suatu situasi dan keadaan yang benar-benar baru bagiku.

***
”Assalamualaikum. Apa kabar?”, sapaku pada wanita itu lewat telpon.
”Alhamdulillah, baik. Dimana mas?”, sambungnya ”Di kantor. Hmmm .. sore ini ada acara nggak ?”, tanyaku. ”Nggak ada. Mau langsung pulang. Emang kenapa?”, tanyanya lagi ”Mau nggak jalan sama aku sore ini?”, ajakku

”Kemana?”
”Ya kemana aja. Yang penting mau dulu”, kataku
”Boleh. Tapi dijemput ya, dan kalau bisa yang dekat rumahku aja. Biar nggak kemalaman”, sahutnya
”Ya dijemputlah. Kalau pulang sendiri, bukan jalan bareng namanya. Dijamin aman lah, nggak bakalan lecet sedikitpun”, kataku meyakinkan dirinya.
”Ok … pulang kantor ya. Jam 7”
”Jam 7? Bukannya pulang kantor jam 5?”, tanyaku heran.
”Saya di galeri mas, jadi tutup tokonya jam 7”, balasnya manja. ”Ohhh … ya sudah. Sampai ketemu nanti”. Kalimat itu menandai berakhirnya percakapanku dengan wanita itu.

Sore itu, jalanan macet seperti biasanya. Hanya bedanya kali ini aku begitu menikmatinya, karena sore itu aku mempunyai janji dengan seorang wanita yang sepertinya sudah jadi salah satu seorang yang istimewa bagiku.

Entahlah, semenjak mengenal wanita itu lebih dekat, jiwaku pun bergejolak. Tatkala kusadari, ada satu rasa yang memeluk hangat tubuhku. Satu rasa yang selama beberapa waktu sempat menghilang, telah hadir kembali dan berdiri dengan anggunnya dihadapanku.
”Halo, aku sudah di depan nih”, kataku lewat telpon
”Ooo .. tunggu bentar ya mas. Aku sudah mau turun kok”, jawabnya. ”Ok!”

Segera aku keluarkan sebatang rokok putih dari kantongku. Dalam hati, paling cepat dari ”sebentarnya” wanita itu adalah sekitar 10 menitan. Jadi cukup waktu buatku untuk menikmati sebatang rokok putihku.
”Sudah lama, mas?”, seseorang menyapaku.
Aku segera menoleh ke arah suara yang berasal dari belakangku. ”Baru berapa menit. Rokok sebatang aja belum habis”, kataku setelah mengetahui bahwa yang menyapaku adalah seseorang yang memang kutunggu.
”Kemana kita?”, tanyanya
”Ke bulan sih, kalau mampu”, jawabku seenaknya
”Ngimpiiiii ….”, sahutnya
”Ngimpi kan nggak dosa”, timpalku.
”Dekat rumahku aja ya?”, pintanya,”Besok aku harus masuk pagi, jadi biar nggak kesiangan”.
”Emang cuman kamu yang masuk pagi?”, jawabku agak ketus,”Deket rumahmu? Bekasi ????”
”Iya. Emang kenapa?”, tanyanya lagi
”Bekasi kan pelosok”, jawabku menggoda
”Biarin pelosok, yang penting kan orangnya cantik- cantik”, balasnya.
”yang cantik ya cantik, yang jelek tetep aja jelek. Kayak kamu itu. Jelek!”, godaku
”Kalau jelek, kok kamu ngajak aku jalan. Weekkss”, ejeknya. ”Justru karena kamu jelek itu, aku mau ngajak kamu. Biar gak terasing”, balasku
”Udah gak jadi aja kalo nyela mulu. Heran, dari pertama kenal kerjanya cuman nyela Indri mulu”, protesnya.
”Nyela itu kan tandanya sayang, Ndri”, balasku.
”Gubraghhhhh!!!!”, ujarnya singkat.

bersambung …