Perbedaan 1 Syawal

Sekali lagi terjadi perbedaan dalam menentukan jatuhnya 1 Syawal atau Idul Fitri atau juga yang lazim disebut dengan hari lebaran.

Penentuan 1 Syawal dilakukan dengan melihat pemunculan hilal atau bulan, sama seperti yang dilakukan pada saat penentuan 1 Ramadhan.

Bukankah hilal atau bulan itu cuma ada satu? Lalu kenapa bisa berbeda? Tentunya ada bermacam alasan penyebab perbedaan itu, salah satunya adalah letak geografis. Tapi saya tidak akan membahas lebih detail kenapa dan mengapa bisa terjadi perbedaan.

Bagi saya pribadi, perbedaan itu indah. Sama halnya ketika kita melihat bermacam warna disekitar kita. Ada merah, kuning, hijau, biru, putih dan ratusan warna lainnya. Namun warna-warna itu membentuk satu rangkaian yang sangat indah. Bayangkan jika disekitar kita hanya ada satu warna, betapa monotonnya kehidupan ini.

Begitu juga dengan perbedaan tentang jatuhnya 1 Syawal. Tidak perlu berdebat, tidak perlu pertentangan apalagi pertikaian.

1 Syawal terlalu suci untuk diperdebatkan. Lagipula, ada Imam yang harus kita jadikan panutan. Pun ketika ada perbedaan pendapat, kita ikutin saja Imam kita masing-masing.

Selamat Idul Fitri 1432 H … Minal Aidzin Wal Faidzin

Tour de Jawa Tengah

Event mudik tahun ini, kebagian area Jawa Tengah. Perjalanan supervisi posko mudik dimulai dari Semarang. 23 Agustus 2011 pukul 16.30, pesawat saya mendarat dengan mulus dan selamat di bandara Ahmad Yani Semarang. Setelah persiapan dan istirahat semalam, paginya perjalanan dinas dimulai.

Target pertama adalah posko mudik di RM Sendang Wungu, Kendal. Perjalanan dari Semarang ke lokasi posko memakan waktu sekitar 2,5 jam. Panas menyengat plus debu bertebaran dengan setia menemani. Ppuufffff

Setelah berbincang-bincang sejenak dengan tim posko, perjalanan dilanjutkan ke posko selanjutnya di wilayah Secang – Temanggung. Kali ini perjalanan mengambil jalan pintas melalui perbukitan. Lumayan segerlah mata, karena kanan kiri dipenuhi pepohonan. Cuman anehnya, meski masuk di daerah semi hutan panas matahari masih terlihat menyengat. Memang sih saya berada didalam mobil ber -AC, tetapi kalau melihat keluar sangat terasa silaunya paparan sinar matahari. Super silau …

Jam 2 siang, rombongan masuk lokasi posko di Secang. Dan kali ini panasnya 1 level diatas lokasi pertama. Mana poskonya berada di pinggir jalan plus minim tumbuhan. Debu dengan leluasa menari-nari diudara. Sigh …. Melted :(

30 menit kemudian perjalanan lanjut ke lokasi ke-3 yaitu di RM Mbok Berek di jalan raya Magelang. Nah … Untuk kali ini lokasinya lumayan sejuk. Disekitar banyak pepohonan plus poskonya berada di dalam rumah makan. Suuueeeejjuuuuk. Bahkan sempat refleksi gratis di posko untuk menghilangkan penat.

Perjalanan berakhir? Nggak juga. Lanjut ke posko ke-4 yang lokasinya di sebuah SPBU di Salatiga, tepatnya di jalur mudik Semarang-Solo. Tiba di lokasi pukul 5 sore. Keadaan pun berubah drastis. Dimana seharian merasakan panas yang sangat terik, di lokasi posko ini justru dingin. Waduh … Perubahan cuaca yang sangat mendadak membuat ketahanan fisik sedikit terganggu alias mulai mbeler hidung :(. Untungnya tak lama kemudian waktu berbuka puasa. Saatnya refill hheehehehe

Jam 7 malam, rombongan kembali ke Semarang. Masuk hotel dan tidur …. zzzzzzzzz

25 Agustus 2011 pukul 8 pagi. Tour de Jawa Tengah dilanjutkan. Kali ini target lokasi adalah Demak, Kudus dan Pati. Di Demak dan Kudus, panasnya pun tetap sama. Menyengat. Ah tidak masalah, kan sehari sebelumnya sudah terlatih jadi tidak terlalu kaget. Tapi keadaan kembali berubah ketika masuk ke posko di depan pabrik kacang Dua Kelinci – Pati. Panasnya edan … Mak nyosssssss!!!!

Disinilah pertahanan tubuh jebol. Jam 1 siang, kamipun terpaksa berbuka puasa lebih awal. Tenggorokan kering dan kepala mulai pusing. Maaf Tuhan, saya utang 1 hari puasa :(

Perjalanan berakhir? Ya pasti belumlah. Karena masih ada Sragen dan Solo yang mesti dikunjungi. Perjalanan ke Sragen memakan waktu cukup lama. Cuaca panas mulai berkurang dan sayapun tertidur di mobil. Entah karena kecapekan atau kekenyangan :)

Setiba di Sragen, sekitar pukul 6.30 sore, angin kencang dan dingin menyambut. Weladalah …. Suhu kok berbeda-beda dengan drastis. Kali ini istirahat di posko lumayan lama, hampir 1,5 jam. Maklum, lebih dari 4 jam berada di kendaraan bikin pantat panas. Selain itu, SPG nya cantik dan menyenangkan. Jadi makin betah lah saya dan rombongan berdiam disitu hehehheehe.

Perjalanan lanjut ke Solo. Makan malamnya adalah Timlo. Makanan khas solo yang seperti soto yang isinya adalah daging ayam suwir, telur dan ati ayam. Bedanya sama soto, timlo ini kuahnya lebih encer dan segar. Selepas makan, perjalanan lanjut ke Posko yang terletak di Bandara Adi Soemarmo. Sepiiiiii dan poskonya pun sudah tutup. Hadeh … Ternyata sudah jam 21.30.

Lanjut ke Yogya. Perjalanan sekitar 1 jam. Lancarrrrr jaya. Rombongan pun memutuskan untuk menginap di hotel Ibis di jalan Malioboro Yogyakarta. Mandi trus nulis coretan trus zzzzzz.

Selesai?
Ya belum lah. Edisi bang Thoyin yang gak pulang-pulang masih berlanjut. Besoknya masih ada perjalanan ke Candi Sari dan Purwokerto. Hadeehhh … *tepokjidat*

(bersambung)
Zzzzzzzz. ……

Thank You, Garuda Indonesia

Selasa, 23 Agustus 2011, saya harus terbang ke Semarang dalam rangka tugas. Di tiket saya tertulis jam penerbangan adalah pukul 12.30 siang. Jam 10 pagi saya sudah meninggalkan rumah untuk menuju ke Soekarno-Hatta Airport di Cengkareng. Jadi ada spare waktu sekitar 2 jam untuk check in. Waktu yang sangat cukup, karena biasanya waktu tempuh dari rumah saya ke bandara hanya sekitar 60 sampai 70 menit.

Tapi hari itu keadaan sangat jauh berbeda dari biasanya. 1,5 jam sudah waktu tempuh, tetapi saya baru sampai Kuningan. Waduh …. Macetnya gak ketulungan. Tidak ada kecelakaan atau kejadian janggal apapun selain jumlah kendaraan yang memenuhi ruas jalan tol maupun arteri. Hmmm …

Selepas exit toll semanggi, arus lalu lintas di jalan toll sudah mulai lancar. Tapi jam ditangan saya menunjukkan waktu 11.45. Watawwwww …. Can I make it in less than 30 minutes?

Jam 12.05, menjelang exit toll bandara, kembali saya dihadapkan dengan kemacetan yang luar biasa. Kali ini karena ada kecelakaan cukup parah. Sudahlah … Pasrah :(

12.25, Setiba di terminal 2F Bandara Soetta, saya langsung lari menuju check in counter.
“Wah pak, sudah closed. Sudah boarding”, kata si mbak cantik petugas disana.
“Semprul. Tiket melayang niy, mana musim mudik. Masih adakah seat kosong untuk flight berikutnya”, kata saya dalam hati.

Pasrah!!!!

“Pak, lapor ke kasir saja”, kata si mbak tadi seraya menuliskan 12.26 di tiket saya.
“Ooo OK. Terima kasih”, jawab saya tanpa tahu maksudnya

Sesampai di kasir, saya sodorkan tiket itu dan menyampaikan bahwa saya ketinggalan pesawat. Lagi-lagi yang membantu saya adalah seorang petugas kasir perempuan yang cantik dan ramah. Saya lupa namanya :)

Sebentar kemudian si mbak itu menyampaikan bahwa saya digeser ke penerbangan 2 jam berikutnya tetapi harus membayar biaya re-booking sebesar Rp 100.000

Okeh! No problem, yang penting saya berangkat hari itu juga.

Well … It’s an excellent service. Nggak pakai bertele-tele, nggak pakai di ping-pong apalagi terkesan masa bodoh. Padahal kalau mereka menghindar pun saya juga tidak tahu, karena seumur-umur baru sekali ini saya mengalami ketinggalan pesawat. Terlepas dari alasan karena kemacetan yang luar biasa, itu adalah bukan kesalahan pihak Garuda.

Makin jatuh cintalah saya sama maskapai penerbangan satu ini.

Terima kasih Garuda Indonesia … Makin sukses!!!!