Benci itu Menyiksa

Setahun belakangan ini, ada kebencian yang teramat dalam terhadap seseorang. Seseorang yang awalnya sangat dekat dengan saya, tiba-tiba mulai berubah tanpa saya tahu pasti apa penyebabnya.

Tak ada badai, tak ada hujan … perubahan sikap dia kepada saya mulai saya rasakan. Awalnya saya pikir itu hanya perasaan saya saja. Tetapi hal itu gugur sudah ketika semakin hari, perubahan itu semakin terasa dan semakin menyakitkan.

Dengan berlindung dibalik alasan “nama baik”, jarak itu pun tercipta. Jika memang saya dan dia harus berjauhan untuk alasan itu, tidak masalah. Tetapi masalah menjadi lain ketika dia hanya menjauhi saya, dan tidak dengan yang lain.

FINE!!!! selama saya tahu alasan sebenarnya ….

***
Well, saya tidal akan menulis terlalu detail tentang masalah itu. Saya hanya ingin menceritakan bahwa sebenarnya … di dalam hati kecil saya, yang saya tahu dan saya rasakan adalah … “BENCI itu MENYIKSA”

Kebencian yang saya pendam lebih dari satu tahun lamanya … membuat saya merasakan ada sesuatu yang hilang dalam diri saya. Kebencian itu juga yang telah menutup mata hati saya, dan akhirnya yang ada di otak saya adalah … “apapun yang dia lakukan, salah di mata saya”

Benci itu pula yang membuat saya selalu sulit untuk berkumpul dengan yang lainnya, karena ketika ada dia … saya tidak bisa menikmati kondisi apapun. Seheboh dan seseru apapun acara yang dibuat, saya merasa seperti sedang tidak berada dalam situasi itu. Ya … semua karena ada dia.

Memang ada beberapa orang kawan lain yang ternyata diam-diam mengamati perubahan yang terjadi. Berbagai masukan dan nasehat pun terlontar. Tapi hati saya masih buta … omongan mereka tak satupun yang masuk ke telinga saya. Karena kebencian itulah yang membuat saya “mendadak budeg” dan menghilangkan segala bentuk logika terbaik saya.

***
Desember 2010 … suatu kejadian telah membuat sedikit perubahan. Hampir setiap malam saya selalu terbangu dari tidur setelah mimpi bertemu dia. Tidak ada percakapan apapun disana … yang ada hanyalah sosok dia yang datang menghampiri saya dan tanpa ekspresi apapun. Hampir sebulan lamanya mimpi itu selalu datang. Dan sayapun tersiksa dibuatnya!

Saya pikir awalnya itu hanyalah mimpi … tapi ketika saya mulai gelisah, saya menjadi yakin bahwa semua kebencian ini harus segera diakhiri.

***
30 Desember 2010 … tembok perkasa yang dinamakan ego itu pun perlahan mulai runtuh. Dengan perasaan masih memendam benci, dan sedikit gengsi saya memberanikan diri untuk “mengulurkan tangan dan meminta maaf atas segala yang telah terjadi”

Tapi jujur … sampai saat ini saya juga tidak paham betul, saya minta maaf buat apa ???

Tapi ya sudahlah … jika itu akan menjadi sebuah kebaikan tersendiri, saya tidak akan menyesal melakukannya. Saya tidak lagi peduli siapa yang salah, siapa yang memulai … karena yang saya tahu, sayalah yang harus mengakhiri.

Saya hanya ingin hidup tenang … dikelilingi teman-teman terbaik saya … yang mau menjadikan saya teman dalam kondisi apapun tanpa ada perbedaan, sekecil apapun itu.

Dan satu hal yang saya tahu dan saya percaya … BENCI itu MENYIKSA batin saya.

Kartini Tua

Terus terang saya tidak punya ide lain untuk memberi judul coretan saya kali ini. Kartini Tua, itulah kalimat pertama yang muncul di benak saya yang mungkin masih dipengaruhi oleh suasana perayaan hari Kartini 2 hari yang lalu, dan kebetulan coretan saya kali ini tentang seorang perempuan.

Kartini Tua di Bus Kota

Sosok ibu yang ada di foto ini adalah seorang pengamen yang sudah beberapa kali saya temui di dalam bis kota yang dengan setia mengantar saya pergi pulang dari rumah ke kantor dan sebaliknya(cuman sayang, saya tidak sempat mengambil fotonya pada saat dia beraksi – mengamen: red).

Menurut cerita yang mampir ke telinga saya, beliau menjadi pengamen karena tempat usahanya yang berupa warung digusur oleh petugas trantib (lagi-lagi, yang ditertibkan dan digusur hanya rakyat kecil … #poorPeople). Sah-sah saja jika ada yang berpendapat alasan itu dibuat-buat untuk sekedar menarik empati dan simpati dari orang lain. Toh saya juga tidak bisa memberi jaminan bahwa alasan yang ada adalah benar adanya. Tapi bagi saya, alasan itu tetap “lebih terhormat” dibandingkan dengan pengemis/pengamen yang mengatasnamakan agama.

Well … setiap beliau mengamen dan saya ada dihadapannya, selalu ada titik air di sudut mata saya. Di usianya yang mulai beranjak senja, beliau harus rela naik turun bus kota, menjual suaranya demi menyambung hidup dan kehidupannya. Ohh Tuhan … saya tidak bisa membayangkan seandainya Ibu yang berdiri mengamen itu adalah Ibunda tercinta saya.
Sempat ada seseorang yang berceloteh dengan saya, “anaknya dimana ya? kenapa tidak membantu biaya hidup ibunya?”
Saya bilang,”Mungkin tidak punya anak, atau mungkin punya tapi nasibnya tidak lebih baik dari ibunya. Kalau sudah begitu, rumus anak bantu orang tua atau orang tua bantu anak .. sulit untuk berlaku”.
Ketika giliran si Ibu pengamen itu mengedarkan kantong duitnya, tidak terlihat orang yang berceloteh tadi memberikan sesuatu. “Hmmmm … orang Indonesia asli, banyak bicara!”, umpat saya dalam hati.
***
Ibu Kartini Tua, saat ini saya belum bisa berbuat sesuatu yang lebih nyata untuk membantu meringankan beban hidupmu selain menyisihkan uang receh yang tidak seberapa. Tapi satu hal, doa tulus dari saya semoga engkau selalu diberi kesehatan dan kekuatan dalam menjalani kehidupanmu.
Tetap semangat Kartini Tua-ku …